GemaWarta – 14 April 2026 | Angkatan Udara Nigeria melancarkan serangan udara pada Sabtu malam di sebuah pasar mingguan yang terletak di desa Jilli, perbatasan antara negara bagian Yobe dan Borno, timur laut Nigeria. Serangan tersebut menewaskan setidaknya 100 warga sipil, termasuk anak-anak, dan melukai puluhan lainnya. Kejadian ini memicu kecaman keras dari organisasi hak asasi manusia, pemerintahan daerah, serta komunitas internasional yang menuntut penyelidikan independen.
Menurut pernyataan yang disampaikan oleh Direktur Amnesty International Nigeria, Isa Sanusi, timnya telah mengumpulkan foto-foto korban, termasuk balita yang terluka parah. “Kami memiliki dokumentasi visual yang menunjukkan dampak tragis serangan ini pada keluarga yang tak bersalah,” kata Sanusi. Amnesty menegaskan bahwa pihak militer sering menyebut korban sipil sebagai “bandit” atau “teroris” tanpa bukti yang memadai, sehingga menutupi fakta pelanggaran hukum humaniter.
Pemerintah negara bagian Yobe mengakui bahwa operasi udara tersebut ditujukan untuk menghancurkan basis kelompok ekstremis Boko Haram yang diketahui beroperasi di wilayah tersebut. Namun, pejabat setempat mengonfirmasi bahwa pasar Jilli berada tepat di dekat lokasi yang diduga menjadi tempat pertemuan militan. “Target utama memang militan, tetapi pasar berada dalam radius tembakan, sehingga warga sipil tak terhindarkan menjadi korban,” ujar seorang pejabat yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.
Data yang dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Yobe mencatat 23 korban luka dirawat di Rumah Sakit Umum Geidam, sementara angka kematian bervariasi antara laporan resmi militer (yang belum mengonfirmasi korban sipil) dan laporan media serta organisasi internasional. Berikut rangkuman perkiraan angka korban berdasarkan sumber yang tersedia:
- Amnesty International: lebih dari 100 korban jiwa.
- Perserikatan Bangsa-Bangsa (memo PBB): minimal 56 korban jiwa dan 14 luka-luka.
- Laporan media lokal (Akurat.co): sekitar 200 korban jiwa, termasuk anak-anak.
Insiden serupa telah menjadi pola berulang dalam konflik di Nigeria timur laut. Sejak 2017, lebih dari 500 warga sipil dilaporkan tewas akibat serangan udara yang salah sasaran, menurut data Associated Press. Para analis keamanan menilai kegagalan intelijen, koordinasi yang lemah antara pasukan darat dan udara, serta tekanan untuk menurunkan aktivitas militan sebagai faktor utama terjadinya kesalahan penargetan.
Dalam upaya menanggapi kejadian ini, Angkatan Udara Nigeria mengumumkan bahwa Unit Investigasi Kecelakaan dan Kerugian Sipil akan segera melakukan penyelidikan di lapangan. Namun, pernyataan resmi militer belum menyebutkan adanya kesalahan dalam penargetan, melainkan menegaskan bahwa operasi berhasil menewaskan sejumlah militan yang menggunakan sepeda motor di area tersebut.
Reaksi internasional pun tidak terelakkan. Amerika Serikat, yang telah mengirim personel pelatihan ke Nigeria dalam upaya kontra‑terorisme, menanggapi dengan hati-hati. Sementara Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah pernyataan kontroversial, menyatakan ketidaktertarikannya terhadap perundingan gencatan senjata dengan Iran, ia tidak memberikan komentar langsung mengenai serangan di Nigeria. Komunitas internasional menuntut transparansi lebih besar serta akuntabilitas bagi pihak militer yang terlibat.
Kejadian ini menambah beban kemanusiaan bagi penduduk wilayah Yobe dan Borno, yang sudah lama hidup dalam kondisi ketidakpastian akibat serangan teroris, bandit, dan operasi militer. Lebih dari satu juta orang telah mengungsi dari daerah tersebut sejak konflik dimulai pada tahun 2009, dan infrastruktur kesehatan serta pendidikan masih sangat terbatas.
Para pemimpin komunitas lokal menyerukan bantuan darurat, termasuk pasokan medis, makanan, dan tempat penampungan sementara. Badan Penanggulangan Bencana Yobe telah mengirimkan tim tanggap darurat, namun akses ke daerah terpencil masih terhambat oleh kerusakan jalan dan keamanan yang tidak menentu.
Situasi ini menyoroti kebutuhan mendesak akan mekanisme perlindungan sipil yang lebih kuat, serta penegakan hukum internasional yang dapat menahan pihak-pihak yang melakukan pelanggaran. Tanpa langkah konkret, risiko terulangnya serangan yang menimpa warga tak bersalah akan tetap tinggi, memperparah krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lebih dari satu dekade di wilayah tersebut.
Kesimpulannya, serangan udara di pasar Jilli memperlihatkan kompleksitas konflik bersenjata di Nigeria timur laut, di mana upaya memerangi terorisme sering berujung pada tragedi kemanusiaan. Penyelidikan independen, transparansi militer, serta dukungan internasional yang terkoordinasi menjadi kunci untuk mencegah korban sipil selanjutnya dan memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi keamanan.

