GemaWarta – 22 Mei 2026 | Saham Bumi menjadi salah satu topik hangat di dunia investasi saat ini. Dengan berbagai peristiwa yang terjadi, para investor tentu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik perubahan ini.
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN (PGAS) memperkuat pengelolaan gas bumi secara terintegrasi melalui kombinasi pasokan gas dan LNG. PGN menandatangani kesepakatan strategis pasokan gas bumi dan Liquiefied Natural Gas (LNG) domestik dalam Indonesian Petroleum Association Convention & Exhibition 2026 (IPA Convex 2026) pada Rabu, 20 Mei 2026.
Sementara itu, PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) memperoleh persetujuan pemegang saham untuk merealisasikan rencana ekspansi di sektor hulu minyak dan gas bumi melalui akuisisi participating interest di Madura Strait PSC. Persetujuan tersebut diberikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Rabu (21/5/2026).
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 3,54% ke posisi 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/5). Pelemahan indeks terjadi di tengah tekanan jual investor asing yang membukukan jual bersih Rp508,11 miliar di pasar reguler dan Rp544,89 miliar di seluruh pasar.
Investor asing melakukan aksi jual senilai Rp 51,42 Triliun dari pasar saham RI Hari ini. Saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) menjadi emiten yang paling banyak dilepas investor asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp 204,15 miliar.
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi emiten dengan nilai net foreign buy terbesar mencapai Rp 203,87 miliar. Selain itu, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dibeli asing senilai Rp 173,34 miliar, diikuti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp 87,71 miliar.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa saham Bumi masih menjadi salah satu pilihan investasi yang menarik, namun para investor harus tetap waspada dan memantau perubahan yang terjadi di pasar.











