GemaWarta – 14 April 2026 | Jakarta, 13 April 2025 – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi resmi terkait spekulasi publik tentang pengadaan barang yang meliputi laptop, kaos kaki, dan alat makan. Menurut Dadan, pengadaan tersebut memang ada sebagai bagian dari kebutuhan operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun volume dan nilai anggarannya jauh lebih kecil dibandingkan angka-angka yang beredar di media sosial dan sejumlah pemberitaan.
Ia menegaskan, “Pengadaan itu ada, tetapi tidak sebanyak yang disebutkan. Misalnya laptop 32.000 unit dan alat makan senilai Rp4 triliun sama sekali tidak benar.” Pernyataan ini diikuti dengan rincian angka-angka resmi yang mencerminkan perencanaan dan realisasi anggaran BGN selama tahun 2025.
Berikut ini adalah rangkuman data pengadaan utama yang disampaikan oleh Kepala BGN:
- Laptop: Total unit yang dibeli sepanjang tahun 2025 hanya sebanyak 5.000 unit, bukan 32.000 unit seperti yang diklaim sebelumnya.
- Kaos kaki: Pengadaan kaos kaki dilakukan sesuai kebutuhan riil di lapangan untuk mendukung pelaksanaan MBG, tanpa ada angka fantastik yang diumumkan.
- Alat makan: Pengadaan alat makan diarahkan khusus untuk 315 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dibangun dengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pagu anggaran alat makan sebesar Rp215 miliar, dengan alokasi khusus Rp89,32 miliar; realisasi hingga kini mencapai sekitar Rp68,94 miliar.
- Alat dapur: Untuk mendukung operasional SPPG, BGN menyiapkan pagu Rp252,42 miliar, dengan realisasi hampir mencapai batas maksimum, yaitu Rp245,81 miliar.
Data tersebut dapat dilihat secara lebih terstruktur pada tabel berikut:
| Item | Pagu Anggaran | Realisasi | Jumlah Unit |
|---|---|---|---|
| Laptop | – | – | 5.000 unit |
| Alat Makan (SPPG) | Rp215 miliar (pagu total) Rp89,32 miliar (alokasi khusus) |
Rp68,94 miliar | 315 SPPG |
| Alat Dapur (SPPG) | Rp252,42 miliar | Rp245,81 miliar | – |
Menurut Dadan, semua pengadaan barang tersebut dilaksanakan secara terukur, berlandaskan pada Surat Keputusan Bersama (SKB) menteri terkait dan mengacu pada prioritas kebutuhan di lapangan. Ia menambahkan bahwa proses perencanaan dan pelaksanaan pengadaan telah melalui mekanisme pengawasan internal serta audit eksternal untuk memastikan tidak terjadi pemborosan.
Isu mengenai pengadaan motor listrik untuk wilayah dengan akses sulit serta spekulasi tentang pengadaan barang dalam jumlah besar memang sempat menarik perhatian publik. Namun, Kepala BGN menegaskan bahwa semua keputusan pembelian, termasuk kendaraan, tetap mengikuti prosedur yang telah ditetapkan pemerintah dan disesuaikan dengan kebutuhan riil masing-masing SPPG.
Pengadaan kaos kaki, yang sempat menjadi sorotan karena dikaitkan dengan perlengkapan SPPG di Universitas Pertahanan (Unhan), juga dijelaskan sebagai bagian kecil dari paket logistik yang diperlukan untuk mendukung petugas lapangan. Tidak ada indikasi bahwa pengadaan tersebut melampaui anggaran yang dialokasikan.
Dengan menegaskan fakta-fakta tersebut, Dadan Hindayana berharap publik dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang penggunaan anggaran negara dalam rangka memperkuat program gizi nasional. Ia menutup pernyataan dengan menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas, serta mengajak masyarakat untuk mengandalkan informasi resmi daripada rumor yang tidak terverifikasi.
Secara keseluruhan, data resmi menunjukkan bahwa total nilai pengadaan barang BGN berada pada skala ratusan miliar rupiah, bukan triliunan seperti yang beredar. Hal ini mencerminkan upaya BGN dalam mengelola sumber daya secara efisien demi tercapainya tujuan Program Makan Bergizi Gratis yang tepat sasaran.









