GemaWarta – 29 Mei 2026 | Di balik kalimat yang akrab di telinga kita, “belum makan kalau belum makan nasi”, terdapat sejarah panjang tentang bagaimana negara membentuk selera makan warganya. Nasi bukan sekadar makanan, melainkan ukuran kenyang, simbol kemajuan, dan penanda “makan yang benar”. Namun, di banyak tempat di Indonesia, masyarakat hidup dari pangan lokal seperti sagu, jagung, umbi-umbian, pisang, sorgum, dan sukun.
Di Papua, sagu bukan hanya sumber karbohidrat, melainkan pengetahuan, kekerabatan, ekonomi, dan cara masyarakat adat merawat kesinambungan hidup. Film dokumenter “Pesta Babi” mengungkap sisi lain dari proyek pangan di Papua, yang tidak hanya tentang pangan, tetapi juga tentang tanah adat, kolonialisme modern, dan cara negara menyeragamkan makan warganya.
Proyek pangan nasional di Papua, seperti Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) dan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE), membawa gagasan besar menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan. Namun, proyek-proyek ini tidak berjalan sebagaimana dijanjikan, dan masyarakat adat Marind, Awyu, dan Muyu terdampak oleh proyek strategis nasional di tanah mereka.
Film “Pesta Babi” diproduksi oleh Greenpeace, WatchDoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Merauke. Film ini mengikuti perlawanan masyarakat adat yang terdampak oleh proyek pangan dan energi berskala besar.
Di tengah-tengah perdebatan tentang proyek pangan di Papua, film “Pesta Babi” membawa perspektif yang berbeda. Film ini menunjukkan bahwa pangan tidak hanya tentang beras, tetapi juga tentang tanah adat, sagu, dan cara masyarakat adat merawat kesinambungan hidup.
Kesadaran ini penting, karena proyek pangan nasional di Papua dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat adat dan lingkungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi yang lebih mendalam tentang proyek pangan di Papua, dan mempertimbangkan perspektif masyarakat adat dan lingkungan.
Dalam kesimpulan, film “Pesta Babi” membawa pesan yang penting tentang proyek pangan di Papua. Film ini menunjukkan bahwa pangan tidak hanya tentang beras, tetapi juga tentang tanah adat, sagu, dan cara masyarakat adat merawat kesinambungan hidup. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi yang lebih mendalam tentang proyek pangan di Papua, dan mempertimbangkan perspektif masyarakat adat dan lingkungan.











