Bencana Alam

BMKG: Dinamika Atmosfer dan Faktor Manusia Picu Banjir di Musim Kemarau

×

BMKG: Dinamika Atmosfer dan Faktor Manusia Picu Banjir di Musim Kemarau

Share this article
BMKG: Dinamika Atmosfer dan Faktor Manusia Picu Banjir di Musim Kemarau
BMKG: Dinamika Atmosfer dan Faktor Manusia Picu Banjir di Musim Kemarau

GemaWarta – 04 Juni 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa dinamika atmosfer seperti adanya fenomena gelombang Rossby Ekuator hingga faktor interferensi manusia menjadi pemicu terjadinya bencana banjir di tengah periode musim kemarau nasional.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi cuaca pada masa peralihan menuju kemarau saat ini bersifat sangat kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai variasi harian. Ada juga terkait dengan gelombang Rossby ekuator, gelombang Kelvin, MJO (Madden-Julian Oscillation), dan sebagainya yang dapat menimbulkan variasi harian.

🔖 Baca juga:
Dana Tahap II Dorong Percepatan Perbaikan Rumah Terdampak Bencana di Aceh Tamiang

Indikasi tersebut membuat curah hujan masih tetap berpotensi turun di beberapa wilayah perairan dan daratan Indonesia, meskipun direktorat klimatologi telah mengumumkan masuknya periode kemarau tahun ini. Hingga akhir Mei lalu, sistem pemantauan BMKG mencatat baru sekitar 24 persen dari total 699 Zona Musim (ZOM) di seluruh wilayah tanah air yang secara resmi telah memasuki masa kemarau, sedangkan sisanya baru menyusul pada bulan Juni.

BMKG juga menyoroti andil besar faktor lokal dan interferensi manusia, seperti masifnya pembangunan kawasan perumahan serta pendangkalan struktur sungai di berbagai daerah. Alih fungsi lahan dan kerusakan lingkungan tersebut memicu kerentanan baru di mana, menurut Kepala BMKG, guyuran hujan dengan intensitas sedang yang pada masa lalu tidak menimbulkan masalah, kini justru langsung memicu bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Penjelasan tersebut sejalan dengan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat sejumlah daerah dilanda banjir dan tanah longsor akibat tingginya intensitas hujan berapa pekan terakhir. Peristiwa tersebut terjadi saat sebagian daerah lain menghadapi penurunan curah hujan yang berujung meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Direktorat Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan salah satunya banjir di Kota Manado, Sulawesi Utara, Jumat (28/5). Ada sebanyak 747 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman menyusul bencana banjir yang merendam kawasan permukiman penduduk. Banjir dipicu luapan aliran sungai dan drainase yang tidak mampu membendung tingginya intensitas hujan.

BMKG juga mengungkap adanya perbedaan karakteristik yang fatal terkait tingkat bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area gambut dibandingkan dengan lahan non-gambut. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan bahwa perbedaan sifat kebakaran tersebut menjadi landasan utama pemerintah dalam menentukan skala prioritas pencegahan – penanggulangan bencana.

Di daerah gambut, terjadi pembakaran yang tidak sempurna, sehingga menghasilkan gas-gas yang lebih berbahaya bagi manusia. Pembakaran atau marhutla yang terjadi di daerah gambut menjadi perhatian khusus. Sifat bara api pada lahan gambut memiliki tingkat kesulitan mitigasi yang sangat tinggi karena polanya yang menyebar di bawah permukaan tanah kering.

🔖 Baca juga:
Gempa Bumi di Indonesia: Informasi Terkini dan Upaya Mitigasi

Kondisi tersebut sering kali mengecoh petugas di lapangan, di mana kobaran api di atas permukaan tampak sudah padam, namun bara api sebenarnya masih terus menyala dan menjalar di lapisan dalam. Karakteristik ini sangat kontras dengan insiden karhutla yang melanda wilayah non-gambut seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua Selatan, yang polanya berupa kebakaran vegetasi atas.

BMKG menegaskan fokus penanganan super intensif melekat pada enam provinsi pemilik lanskap gambut terluas di Indonesia, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Penanganan intensif termasuk dilakukan salah satunya dengan menggelar operasi modifikasi cuaca, dimana untuk meningkatkan peluang hujan ke kawasan-kawasan yang masuk zona rawan kebakaran dengan cara menyemai zat seperti garam ke awan-awan potensial.

BMKG juga memprediksi bahwa sebagian besar wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan, akan memasuki musim kemarau pada Juni 2026. Hal ini dikutip dari Buku Prediksi Musim Kemarau 2026 oleh BMKG. Sebagian besar wilayah di Indonesia pun diprediksi alami hal yang sama.

BMKG menjelaskan bahwa awal musim kemarau di Indonesia tidak terjadi secara bersamaan. Dalam total 699 Zona Musim (ZOM), sebagian besar wilayah diprediksi memasuki musim kemarau secara bertahap mulai April hingga Juni 2026. Sementara itu, BMKG mencatat sebanyak 163 ZOM atau sekitar 23,3 persen wilayah musim di Indonesia diprediksi mulai mengalami musim kemarau pada Juni 2026.

Sebelum itu, musim kemarau lebih dahulu berkembang di sejumlah wilayah pada April dan Mei 2026. Informasi mengenai wilayah yang memasuki musim kemarau penting untuk diketahui masyarakat maupun pemerintah daerah sebagai bahan antisipasi menghadapi perubahan kondisi cuaca.

Merujuk Buku Prediksi Musim Kemarau 2026 yang dirilis BMKG, wilayah yang diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Juni 2026 meliputi sebagian kecil Sulawesi Selatan. Meskipun sudah memasuki musim kemarau, BMKG menginformasikan bahwa hujan deras diikuti angin kencang masih dapat terjadi.

🔖 Baca juga:
Gempa Hari Ini: Update Terbaru Gempa di Jember, Samosir, dan Lombok Utara

Suatu wilayah dikatakan memasuki musim kemarau jika curah hujannya berada di bawah 50 mm per dasarian (10 hari) dan diikuti oleh dasarian berikutnya. Artinya, hujan tetap bisa turun, hanya saja intensitas dan frekuensinya jauh lebih rendah jika dibandingkan saat musim hujan.

Menghadapi kemarau 2026 yang cenderung lebih kering, masyarakat diimbau untuk melakukan langkah antisipasi dini, seperti menghemat penggunaan air untuk menjaga ketersediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Masyarakat juga diimbau untuk waspada kebakaran hutan dan lahan, dengan menghindari pembakaran sampah sembarangan atau membuka lahan dengan cara dibakar, terutama di area kering dan berangin kencang. Memasuki musim kemarau, perbedaan suhu antara siang (terik) dan malam hari (dingin/fenomena bediding) biasanya cukup ekstrem.

Pastikan tubuh terhidrasi dengan baik untuk mencegah penurunan imunitas. Dengan melakukan langkah-langkah antisipasi tersebut, diharapkan masyarakat dapat menghadapi musim kemarau 2026 dengan lebih siap dan tangguh.

Kesimpulan, BMKG telah menyatakan bahwa dinamika atmosfer dan faktor manusia menjadi pemicu terjadinya bencana banjir di musim kemarau. Oleh karena itu, masyarakat perlu melakukan langkah antisipasi dini untuk menghadapi musim kemarau yang cenderung lebih kering.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *