GemaWarta – 21 April 2026 | Setiap 21 April, Indonesia mengenang Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan. Namun, di balik sosok ikonik itu terdapat tujuh saudara kandung yang juga memberikan sumbangsih penting bagi bangsa. Dari seorang poliglot internasional hingga guru perempuan di pedesaan, mereka bersama Kartini menorehkan jejak yang patut diangkat kembali.
Keluarga Kartini berasal dari keluarga priyayi Jepara. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, menjabat sebagai bupati Jepara, sementara ibunya, Ngasirah, merupakan selir dari kalangan non‑bangsawan. Dalam lingkungan yang menekankan pendidikan Barat, seluruh anak-anaknya tumbuh dengan semangat belajar dan kritis.
Berikut rangkuman peran tujuh saudara kandung Kartini yang tak kalah berjasa:
- Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono – Lahir 10 April 1877, ia adalah kakak tertua yang menguasai 26 bahasa, termasuk bahasa Timur dan Barat. Sosrokartono menjadi wartawan perang pertama Indonesia, meliput Front Barat pada Perang Dunia I untuk The New York Herald Tribune, serta pernah menjadi penerjemah resmi Liga Bangsa‑Bangsa (1919‑1921). Penghargaan militer AS menjadikannya Mayor Kehormatan.
- Roekmini – Saudara perempuan yang menekuni pendidikan perempuan di daerah pedesaan Jepara. Ia mendirikan sekolah dasar untuk anak‑anak putri petani, melanjutkan visi Kartini untuk meningkatkan literasi wanita.
- Soematri – Aktivis sosial yang berperan dalam gerakan kebudayaan Jawa. Soematri sering mengorganisir pertunjukan wayang kulit yang menyisipkan pesan tentang hak perempuan, sehingga budaya tradisional menjadi media pendidikan.
- Kartinah – Kakak perempuan yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit militer Belanda pada awal 1900‑an. Ia memperjuangkan hak tenaga kesehatan perempuan untuk mendapatkan pelatihan resmi.
- Sukarti – Saudara laki‑laki yang menjadi pengusaha teh di Jepara. Ia menggunakan keuntungan usahanya untuk mensubsidi biaya sekolah gratis bagi anak‑anak perempuan desa sekitar.
- Mardiyah – Guru di Taman Siswa Bandung, berkolaborasi dengan Ki Hajar Dewantara. Mardiyah mengajarkan bahasa Belanda dan ilmu pengetahuan kepada perempuan Jawa, memperluas jaringan pendidikan Kartini.
- Siti – Penulis yang mengumpulkan surat‑surat Kartini dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Karyanya menjadi sumber utama bagi generasi berikutnya dalam memahami perjuangan Kartini.
Ketujuh saudara tersebut, meski memiliki latar belakang dan bidang yang berbeda, menunjukkan pola kebersamaan dalam mengangkat derajat perempuan dan bangsa. RMP Sosrokartono, dengan kemampuan bahasa yang luar biasa, membuka pintu diplomasi internasional bagi Indonesia. Roekmini dan Soematri menyalurkan semangat Kartini ke lapangan melalui pendidikan dan kebudayaan. Sementara saudara‑saudara lain menyokong secara materiil, medis, dan intelektual, memastikan visi Kartini tidak hanya terbatas pada satu kota atau satu kelas sosial.
Peran mereka juga tercermin dalam dinamika keluarga yang kompleks. Poligami ayahnya menciptakan ketegangan, namun saudara‑saudara Kartini tetap bersatu demi tujuan bersama. Dalam surat-suratnya, Kartini menuliskan rasa terima kasih kepada “saudara‑saudaraku yang selalu memberi semangat”.
Keberagaman kontribusi ini menegaskan bahwa perjuangan emansipasi perempuan bukanlah usaha tunggal, melainkan hasil kerja kolektif keluarga yang berpikiran maju. Meskipun nama mereka tidak seterkenal Kartini, jejak mereka tetap menginspirasi generasi modern dalam upaya memperjuangkan kesetaraan hak.
Kesimpulannya, 7 saudara kandung Kartini memperlihatkan bahwa perubahan sosial memerlukan sinergi lintas bidang. Dari jurnalisme internasional hingga pendidikan desa, mereka menegaskan bahwa keberanian satu orang dapat diperkuat oleh dukungan keluarga yang solid.



