OLAHRAGA

Ricky Kambuaya Balas Sindiran Rasis di Media Sosial, Dapat Dukungan Kuat Timnas Indonesia

×

Ricky Kambuaya Balas Sindiran Rasis di Media Sosial, Dapat Dukungan Kuat Timnas Indonesia

Share this article
Ricky Kambuaya Balas Sindiran Rasis di Media Sosial, Dapat Dukungan Kuat Timnas Indonesia
Ricky Kambuaya Balas Sindiran Rasis di Media Sosial, Dapat Dukungan Kuat Timnas Indonesia

GemaWarta – 22 April 2026 | Setelah laga imbang 2-2 antara Dewa United dan Persib Bandung pada pekan ke-28 BRI Super League 2025/2026, gelandang asal Papua Ricky Kambuaya menjadi target serangan rasis di kolom komentar serta pesan langsung media sosial. Insiden terjadi sesaat setelah pertandingan berakhir, ketika sejumlah netizen menggunakan istilah menghina yang menyamakan Kambuaya dengan hewan, khususnya menyebutnya sebagai “monyet”.

Kambuaya tidak membiarkan hinaan tersebut berlarut. Pada hari Selasa, 21 April 2026, ia mengunggah tangkapan layar komentar-komentar ofensif tersebut di akun Instagram pribadinya dan menuliskan balasan satir yang menegaskan identitasnya sebagai pemain profesional yang mewakili Indonesia di level internasional. Ia menulis, “Bagaimana bisa? Monyet bermain sepakbola di level profesional. Bahkan sampai perwakilan membela negara yang dihuni para manusia. Masih kurang rasisnya, ayoo tambah lagi sodaraku,” menantang balik para pelaku dengan nada tajam namun tetap terkontrol.

🔖 Baca juga:
Ulsan vs Gwangju: Prediksi Cuaca Ekstrem Mengancam Pertandingan Klasik K‑League

Balasan Kambuaya segera memicu gelombang dukungan dari rekan-rekan setim dan sesama pemain Timnas Indonesia. Rafael Struick menulis, “Stay strong brother,” sementara Kevin Diks menanggapi dengan satu kata, “Unbelievable,” yang mencerminkan ketidakpercayaan terhadap kejadian tersebut. Begitu pula Egy Maulana Vikri, Mauro Zijlstra, dan striker Persija Jakarta mengirimkan pesan semangat melalui akun media sosial masing-masing, menegaskan pentingnya solidaritas melawan diskriminasi.

Klub Dewa United juga tidak tinggal diam. Akun resmi klub memposting pernyataan resmi yang menolak segala bentuk rasisme dan menegaskan bahwa pemainnya berhak bermain dalam lingkungan yang bebas dari diskriminasi. Pernyataan tersebut menekankan komitmen klub untuk melindungi hak asasi pemain serta menindak tegas akun-akun yang melakukan pelecehan.

Kasus ini menambah panjang daftar insiden rasisme yang melanda sepak bola Indonesia belakangan ini. Beberapa pemain lain dalam liga yang sama melaporkan serangan serupa, mencerminkan kurangnya kedewasaan sebagian penggemar dalam menanggapi hasil pertandingan atau aksi di lapangan. Pihak berwenang liga dan PSSI diharapkan dapat memperkuat regulasi serta menegakkan sanksi yang lebih tegas bagi pelaku.

🔖 Baca juga:
Mahrez Angkat Al Ahli ke Perempat Final ACL Elite Usai Gol Bebas Dramatis melawan Al Duhail
  • Ricky Kambuaya – Gelandang Dewa United dan Timnas Indonesia.
  • Kevin Diks – Bek Borussia Mönchengladbach dan Timnas Indonesia.
  • Rafael Struick – Pemain Timnas Indonesia yang memberikan dukungan moral.
  • Egy Maulana Vikri – Rekan setim yang menegaskan pentingnya menolak rasisme.

Selain dukungan moral, Kambuaya juga menonjolkan performa di lapangan. Ia mencetak satu gol penting dalam pertandingan melawan Persib Bandung, yang membantu timnya mengamankan poin pada akhir laga. Penampilan konsisten Kambuaya menjadi salah satu alasan mengapa ia terus dipanggil ke skuad Timnas Indonesia meski pelatih mengalami pergantian dari Shin Tae-yong hingga Patrick Kluivert.

Para pengamat sepak bola menilai respons Kambuaya sebagai contoh kepemimpinan yang dewasa. Dengan mengubah rasa marah menjadi aksi konstruktif, ia tidak hanya melindungi harga diri pribadi, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif bahwa rasisme tidak dapat diterima dalam olahraga. Sikap tegas tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi pemain muda lainnya untuk tidak takut mengungkapkan kebenaran.

Menanggapi kejadian ini, sejumlah pejabat PSSI menyatakan komitmen untuk meningkatkan edukasi anti‑rasisme kepada suporter serta menyiapkan mekanisme pelaporan yang lebih cepat. Mereka menekankan bahwa sepak bola harus menjadi ajang persatuan, bukan sumber perpecahan.

🔖 Baca juga:
Albacete vs Granada: Kemenangan 4-1 yang Mengamankan Posisi

Dengan dukungan yang meluas, Ricky Kambuaya kini menjadi simbol perlawanan terhadap diskriminasi di dunia sepak bola Indonesia. Keberaniannya dalam menanggapi hinaan secara publik sekaligus mempertahankan performa di lapangan memperlihatkan betapa kuatnya mental seorang atlet profesional yang tidak hanya bermain untuk kemenangan, tetapi juga untuk keadilan.

Kasus ini menegaskan perlunya kerja sama antara klub, federasi, pemain, dan suporter untuk menciptakan lingkungan kompetitif yang inklusif. Hanya dengan langkah bersama, sepak bola Indonesia dapat melangkah maju tanpa bayang‑bayang rasisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *