OLAHRAGA

Ruud Gullit Kritik Gaya Bermain Inggris, Italia, dan Klub Top: Dari Anthem Arrogant hingga Taktik Tiki‑Taka

×

Ruud Gullit Kritik Gaya Bermain Inggris, Italia, dan Klub Top: Dari Anthem Arrogant hingga Taktik Tiki‑Taka

Share this article
Ruud Gullit Kritik Gaya Bermain Inggris, Italia, dan Klub Top: Dari Anthem Arrogant hingga Taktik Tiki‑Taka
Ruud Gullit Kritik Gaya Bermain Inggris, Italia, dan Klub Top: Dari Anthem Arrogant hingga Taktik Tiki‑Taka

GemaWarta – 22 April 2026 | Legenda sepak bola Belanda, Ruud Gullit, kembali menjadi sorotan dunia olahraga setelah serangkaian pernyataan tajamnya mengenai beberapa isu penting di kancah internasional. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Gullit menyoroti kritiknya terhadap anthem Inggris yang ia sebut “arrogant”, menuduhnya menjadi musuh terbesar bagi tim Three Lions. Selain itu, ia juga memberikan analisis mendalam mengenai kelemahan Manchester United yang menurutnya mirip dengan masalah yang dihadapi AC Milan pada era keemasannya, serta mengkritik proyek Chelsea yang ia nilai tidak realistis. Namun yang paling menarik, Gullit mengajak timnas Italia kembali ke DNA permainan bertahan kuat, menolak penerapan tiki‑taka yang dianggapnya tidak cocok untuk karakter Italia.

Gullit membuka pembicaraan dengan menyinggung anthem kebangsaan Inggris yang diputar sebelum pertandingan internasional. “Lagu itu terdengar sombong, seolah-olah mengklaim keunggulan tanpa dasar,” ujar Gullit di depan kamera. Ia menambahkan bahwa sikap demikian dapat memicu kebencian lawan dan menurunkan semangat sportivitas. “Jika Inggris ingin menjadi tim yang dihormati, mereka harus menunjukkan rasa hormat lewat tindakan, bukan lewat nyanyian yang terkesan merendahkan,” pungkasnya.

🔖 Baca juga:
Kai Havertz Gagal Buktikan Nilainya, Arsenal Tersudut di Kalahkan Manchester City

Beranjak ke Premier League, Gullit menyoroti masalah struktural yang menghambat Manchester United. Menurutnya, klub tersebut terlalu mengandalkan pemain bintang tanpa menyiapkan skema taktis yang jelas, mirip dengan kegagalan AC Milan pada masa transisi kepemimpinan. “Mereka kehilangan identitas. Tanpa pola permainan yang terdefinisi, tim akan mudah terombang‑ambing oleh lawan,” jelas Gullit. Ia menambahkan bahwa United perlu menata kembali lini tengah dan menegakkan disiplin defensif agar kembali bersaing di level tertinggi.

Sementara itu, di Inggris selatan, proyek ambisius Chelsea yang dipimpin oleh manajer baru mendapat sorotan kritis dari Gullit. “Saya rasa visi mereka terlalu tinggi tanpa pondasi yang kuat,” kata Gullit. Ia menilai bahwa investasi besar pada pemain muda belum dibarengi dengan strategi jangka panjang yang konsisten. Menurutnya, Chelsea harus menyeimbangkan antara mengembangkan talenta dan memastikan kestabilan taktik di lapangan.

Pindah ke benua lain, Gullit melontarkan pernyataan kontroversial mengenai taktik Italia. Ia menegaskan bahwa gaya bermain modern seperti tiki‑taka tidak selaras dengan DNA sepak bola Italia yang tradisional. “Italia terkenal dengan bek yang kuat, kiper yang handal, dan penyerang yang tajam. Kembali ke catenaccio atau varian bertahan yang solid akan mengembalikan kejayaan mereka,” ujar Gullit dalam sebuah wawancara dengan Sky Sport Italia. Ia menambahkan bahwa setelah tiga kegagalan beruntun gagal lolos ke Piala Dunia, federasi Italia harus kembali ke akar‑akar permainan defensif yang telah terbukti efektif.

🔖 Baca juga:
Bhayangkara FC Tempel Persija di Papan Atas: Persaingan Juara Super League Memanas!

Gullit juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara pertahanan dan serangan. “Tidak cukup hanya menumpuk bek. Anda butuh gelandang yang mengatur tempo, serta penyerang yang mampu memanfaatkan peluang. Kombinasi itulah yang membuat tim klasik Italia menjadi legendaris,” ujarnya. Pernyataan tersebut menimbulkan perdebatan di kalangan pengamat, karena sebagian berargumen bahwa modernisasi taktik tetap diperlukan agar tetap kompetitif di level internasional.

Selain menyoroti taktik, Gullit menyinggung pengalaman pribadinya di Serie A era 80-an, ketika hanya tiga pemain asing diperbolehkan per klub. Ia menekankan nilai kebersamaan dan identitas klub yang kuat pada masa itu, yang menurutnya kini mulai memudar. “Ketika saya bermain bersama Van Basten dan Rijkaard, kami bukan sekadar tiga bintang. Kami adalah satu kesatuan yang memegang nilai tradisi klub,” kata Gullit mengenang masa lalu.

Secara keseluruhan, pernyataan Gullit mencerminkan keprihatinannya terhadap arah sepak bola modern yang ia nilai terlalu mengedepankan kebanggaan semu dan taktik yang tidak sesuai dengan karakter masing‑masing negara atau klub. Dengan menekankan pentingnya identitas, disiplin, dan rasa hormat, Gullit berharap pemangku kepentingan dapat kembali menata strategi yang lebih berakar pada nilai‑nilai tradisional namun tetap adaptif.

🔖 Baca juga:
Magic vs Hornets: Dominasi 121-90, Magic Lolos ke Putaran Pertama Melawan Pistons

Harapan Gullit bagi Italia adalah kembali ke DNA pertahanan yang solid, sementara bagi Inggris ia mengajak untuk menurunkan sikap arogan dan menumbuhkan sportivitas. Di sisi lain, klub-klub top Eropa seperti Manchester United dan Chelsea diharapkan meninjau kembali kebijakan rekrutmen dan taktik mereka agar tidak terjebak dalam krisis performa yang berlarut‑lalu.

Dengan suara yang tetap keras dan lugas, Ruud Gullit menunjukkan bahwa meski sudah pensiun, pengaruhnya tetap kuat dalam percakapan global tentang sepak bola. Kritiknya bukan sekadar provokasi, melainkan panggilan untuk refleksi mendalam demi kemajuan sportivitas dan kualitas permainan di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *