GemaWarta – 17 Juli 2026 | Pertamina Patra Niaga terus memperkuat upaya percepatan normalisasi distribusi BBM di wilayah Sumatera Utara. Hal ini dilakukan guna memastikan operasional Integrated Terminal Medan Group berjalan lancar selama 24 jam.
Direktur Optimasi Hilir & Distribusi Pertamina Patra Niaga, Hari Purnomo, mengatakan bahwa pihaknya juga mengoptimalkan operasional Fuel Terminal Pematang Siantar, Fuel Terminal Kisaran, dan Integrated Terminal Lhokseumawe yang beroperasi selama 24 jam untuk mendukung percepatan penyaluran BBM ke SPBU di wilayah Sumatera Utara.
Stok BBM di Integrated Terminal Medan Group saat ini berada dalam kondisi aman. Untuk meningkatkan kapasitas distribusi, Pertamina Patra Niaga telah menambah armada melalui skema spot charter sebanyak 30 unit mobil tangki yang difokuskan untuk mempercepat penyaluran BBM ke SPBU.
Selain memperkuat operasional terminal, Pertamina Patra Niaga juga mengoptimalkan pelayanan di SPBU. Sejumlah SPBU di wilayah terdampak Kota Medan dioperasikan selama 24 jam agar masyarakat tetap dapat memperoleh BBM dengan lebih mudah.
Penguatan Awak Mobil Tangki (AMT) oleh Elnusa Petrofin selaku mitra transportasi terus diperkuat melalui kerja sama dengan Bekang TNI guna mendukung kelancaran operasional distribusi.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemerintah melibatkan prajurit TNI untuk menjadi sopir truk tangki BBM milik Pertamina. Menurut Prasetyo, kebijakan tersebut ditempuh untuk menjamin distribusi BBM tetap berjalan lancar sehingga kebutuhan energi masyarakat tidak terganggu.
Prasetyo menegaskan bahwa yang menjadi perhatian utama pemerintah bukan keterlibatan personel TNI, melainkan kepastian bahwa proses penyaluran BBM berlangsung aman tanpa hambatan. Ia menambahkan bahwa pemerintah ingin memastikan seluruh daerah tetap memperoleh pasokan BBM sesuai kebutuhan masyarakat.
Kelancaran distribusi menjadi prioritas agar aktivitas masyarakat tidak terganggu akibat terhambatnya pasokan energi. Prasetyo juga menegaskan tujuan utama kebijakan tersebut adalah memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.
Dalam beberapa bulan terakhir, Sumatera Utara mengalami kelangkaan BBM yang menyebabkan antrean panjang di SPBU. Hal ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk pemangkasan kuota subsidi dan penyalahgunaan distribusi BBM ke sektor tambang ilegal.
Krisis BBM di Sumatra diperburuk oleh masalah internal manajemen vendor serta ketidaksiapan sistem logistik pemerintah dan pihak Pertamina. Namun, dengan upaya percepatan normalisasi distribusi BBM, diharapkan kelangkaan BBM dapat segera teratasi dan masyarakat dapat memperoleh BBM dengan lebih mudah.
Kematian seorang sopir truk bernama Amri yang meninggal dunia akibat kelelahan saat mengantre solar di SPBU Sumatra Selatan menjadi peringatan penting bahwa krisis BBM harus segera diatasi. Dengan demikian, diharapkan pemerintah dan pihak terkait dapat bekerja sama untuk memastikan distribusi BBM berjalan lancar dan aman.











