GemaWarta – 28 April 2026 | Ferizka Utami, seorang praktisi totok sirih yang beroperasi di Palembang sejak 2012, menjadi sorotan publik setelah sebuah video terapi bayi yang dilakukan di Rumah Sirih Palembang tersebar luas di media sosial. Video tersebut menampilkan seorang bayi yang tampak menangis ketika terapis menyentuh kepala anak, memicu perdebatan sengit antara pendukung pengobatan alternatif dan kalangan medis.
Praktik totok sirih merupakan bentuk terapi alternatif yang menggunakan daun sirih sebagai alat pemijatan. Ferizka mengklaim metode ini dapat menstimulasi refleks tubuh bayi, membantu memperbaiki pola tidur, serta meningkatkan kesehatan secara umum. Ia menyatakan bahwa banyak orang tua yang mengirimkan anaknya ke Rumah Sirih setelah melihat perbaikan pada kondisi anak mereka.
Reaksi Pemerintah Daerah
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menanggapi viralnya video tersebut pada rapat paripurna DPRD Sumsel, 27 April 2026. Deru menegaskan bahwa pengobatan alternatif dapat didukung asalkan tidak menyalahi aturan yang berlaku. “Jika terbukti memberikan manfaat, kami siap mengembangkan sebagai bagian dari Sumsel health tourism,” ujarnya, menyinggung potensi pariwisata kesehatan.
Keberatan Kalangan Medis
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Selatan mengirimkan tim untuk memeriksa praktik tersebut. Ketua IDAI Sumsel, dr. Juliuz Anzar, menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti kekerasan fisik dalam video, namun menekankan pentingnya tata cara penanganan anak yang penuh kasih sayang. IDAI mengingatkan bahwa pijat bayi harus dilakukan saat anak dalam kondisi tenang, tidak lapar, dan berhenti bila bayi menunjukkan tanda ketidaknyamanan.
Berikut langkah‑langkah pijat bayi yang dianjurkan IDAI:
- Pastikan bayi dalam keadaan tenang dan tidak lapar.
- Lakukan pijatan lembut selama 10–15 menit, dimulai dari kaki, kemudian perut, dada, tangan, hingga punggung.
- Hentikan pijatan jika bayi menangis keras atau menunjukkan rasa sakit.
- Gunakan tekanan ringan, hindari teknik totok keras.
Pernyataan Ferizka Utami
Ferizka menanggapi kritik dengan menyatakan bahwa video tersebut diunggah oleh orang tua yang merasa anaknya mengalami perubahan positif setelah menjalani terapi rutin. Ia menambahkan bahwa semua upaya kesehatan dilakukan orang tua demi kesejahteraan anak, dan menolak tuduhan kekerasan.
Analisis Dampak Sosial
Kasus ini menyoroti ketegangan antara praktik tradisional dan standar kedokteran modern. Sementara sebagian masyarakat melihat totok sirih sebagai alternatif yang dapat melengkapi perawatan medis, kalangan profesional kesehatan menekankan perlunya bukti ilmiah yang kuat. Pemerintah daerah berupaya menyeimbangkan dukungan terhadap inovasi lokal dengan perlindungan hak anak.
Di samping itu, viralitas video ini membuka peluang bagi Palembang untuk mempromosikan dirinya sebagai destinasi kesehatan alternatif, asalkan praktik yang ditawarkan memenuhi standar keselamatan dan etika.
Kesimpulannya, fenomena totok sirih di Palembang memperlihatkan dinamika kompleks antara kepercayaan tradisional, regulasi kesehatan, dan aspirasi ekonomi daerah.











