GemaWarta – 01 Mei 2026 | Sabastian Sawe dari Kenya menorehkan sejarah baru pada London Marathon 2026 dengan menembus batas dua jam, mencatat waktu 1 jam 59 menit 30 detik. Pencapaian ini tidak hanya menjadikannya pelari pertama yang menyelesaikan marathon dalam waktu sub‑2 jam pada kompetisi resmi, tetapi juga menegaskan dominasi teknologi sepatu Adidas yang mendukungnya.
Sawe melintasi garis finish mengenakan Adidas Adizero Adios Pro Evo 3, model flagship ketiga dari lini “super shoes” Adidas. Sepatu ini menggabungkan busa inovatif dengan sol berlapis karbon, menurunkan bobot rata‑rata menjadi 97 gram—30% lebih ringan dibandingkan generasi sebelumnya. Menurut produsen, inovasi tersebut meningkatkan efisiensi lari sebesar 1,6 persen, sebuah keuntungan yang terasa nyata pada kecepatan tinggi Sawe.
Di podium, Sawe tidak sendirian. Yomif Kejelcha dari Ethiopia, debutan maraton, menempati posisi kedua dengan catatan 1 jam 59 menit 41 detik, juga menggunakan Adizero Adios Pro Evo 3. Sementara di kategori putri, Tigist Assefa mencatat 2 jam 15 menit 41 detik, memecahkan rekor dunia wanita miliknya, dan kembali mengandalkan sepatu yang sama. Ketiga pelari tersebut menegaskan bahwa keunggulan teknologi Adidas kini merata di antara elit dunia.
Keberhasilan Sawe menandai perubahan signifikan dalam persaingan antara Adidas dan rival utamanya, Nike. Selama bertahun‑tahun, Nike memimpin inovasi dengan seri Alphafly dan Vaporfly, bahkan meluncurkan proyek Breaking2 pada 2016 yang gagal mencatat rekor resmi karena penggunaan pacemaker khusus. Proyek selanjutnya, INEOS 1:59 Challenge pada 2019, berhasil menurunkan batas waktu di bawah dua jam, namun tetap tidak diakui oleh World Athletics karena kondisi non‑kompetisi.
Adidas, yang sebelumnya lebih dikenal dengan produk pakaian, kini memanfaatkan keunggulan bahan dan desain untuk merebut pangsa pasar sepatu lari elite. Sepatu Adizero Adios Pro Evo 3 dijual kepada publik mulai 30 April 2026 dengan harga US$500, meski harganya masih menjadi kendala bagi pelari amatir. Pada hari perlombaan, banyak pelari amatir terlihat memakai sepatu Adidas maupun Puma Nitro Elite, sementara kehadiran Nike Alphafly dan Vaporfly terasa sangat minim.
Berikut adalah fitur utama Adidas Adizero Adios Pro Evo 3:
- Busa inovatif yang menyerap benturan secara optimal.
- Sol berlapis karbon yang meningkatkan propulsi.
- Bobot hanya 97 gram, 30% lebih ringan dari versi sebelumnya.
- Desain aerodinamis yang mengurangi drag.
Persaingan teknologi ini tidak hanya berdampak pada prestasi atlet, tetapi juga memicu pertumbuhan pasar sepatu lari secara global. Brand‑brand seperti Hoka (Prancis) dan On (Swiss) turut merasakan peningkatan permintaan, sementara Nike harus menyesuaikan strategi globalnya, mengingat fokus tradisional pada segmen basket di Amerika Serikat. Simon Jaeger, manajer portofolio di Flossbach von Storch, mencatat bahwa Nike berencana meluncurkan versi baru Alphafly dan Vaporfly pada akhir tahun, namun harus bersaing dengan inovasi berkelanjutan Adidas.
Reaksi dari pihak Adidas pun positif. Patrick Nava, manajer umum Adidas Running, menyatakan kebanggaan atas pencapaian Sawe dan Assefa, menekankan bahwa keberhasilan tersebut adalah hasil kerja keras tim inovasi selama bertahun‑tahun. Sementara itu, Nike berusaha memperkuat kembali posisinya di dunia lari dengan investasi pada riset bahan baku dan kolaborasi dengan sponsor utama.
Keberhasilan Sawe juga memiliki implikasi penting bagi dunia atletik Kenya. Rekor dunia sebelumnya, 2 jam 0 menit 35 detik, dicetak oleh Kelvin Kiptum pada Chicago Marathon 2023, namun sayangnya Kiptum meninggal pada 2024. Sawe, yang kini menjadi ikon baru, menginspirasi generasi pelari berikutnya untuk menembus batas yang dulu dianggap mustahil.
Dengan catatan 1:59:30, Sawe tidak hanya menorehkan rekor dunia baru, tetapi juga membuka era baru bagi kompetisi marathon resmi. Penggunaan sepatu berteknologi tinggi, dukungan tim ilmiah, serta strategi pacing yang cermat menjadi kombinasi kunci yang memungkinkan pencapaian tersebut. Di masa depan, tantangan selanjutnya adalah menjadikan performa sub‑2 jam menjadi standar kompetitif, bukan lagi anomali.
Secara keseluruhan, pencapaian Sabastian Sawe menegaskan bahwa batas manusia dapat didorong lebih jauh melalui sinergi antara atlet, teknologi, dan inovasi industri. Kompetisi antara Adidas dan Nike akan terus memacu perkembangan sepatu lari, sementara pelari di seluruh dunia menantikan kesempatan untuk menguji diri mereka dengan peralatan tercanggih.











