GemaWarta – 01 Juni 2026 | Haji Isam, seorang Crazy Rich asal Batulicin, Kalimantan Selatan, baru-baru ini menjadi sorotan karena membeli pesawat Business Max Jet 7 Boeing dengan harga Rp 1,24 triliun. Yang menarik, Haji Isam melakukan transaksi ini dengan mengenakan kaos oblong.
Aksi Haji Isam ini menuai beragam respon dari pengguna sosial media. Beberapa orang menyebutkan bahwa Haji Isam merupakan lawan sepadan dengan CEO Tesla Inc, Elon Musk, yang juga kerap mengenakan kaos oblong dalam berbagai kesempatan.
Sementara itu, Yasinta Moiwend, atau yang dikenal sebagai Mama Sinta, seorang tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan asal Merauke, Papua Selatan, menampik isu bahwa dirinya diintimidasi oleh aparat TNI dan diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat pribadi milik pengusaha.
Mama Sinta menegaskan bahwa kedatangannya ke Jakarta adalah inisiatif dan biaya pribadi guna menuntut keadilan atas pencatutan wajahnya tanpa izin dalam film dokumenter berjudul "Pesta Babi".
Perihal isu keterlibatan aparat, Mama Sinta menampik keras adanya ancaman dari pihak militer. Ia menegaskan bahwa dirinya datang ke Jakarta karena harga dirinya.
Mama Sinta telah membawa persoalan film dokumenter Pesta Babi ke ranah hukum. Ia melaporkan Ketua LBH Merauke berinisial JTW ke Polda Metro Jaya karena merasa wajah dan dirinya ditampilkan dalam film tersebut tanpa izin.
Laporan ini telah diterima dan teregister di Polda Metro Jaya dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 29 Mei 2026.
Kuasa hukum Mama Sinta, TS Hamonangan Daulay, mengatakan pihak yang dilaporkan merupakan individu yang menjabat sebagai Ketua LBH Merauke.
Menurutnya, laporan tersebut berkaitan dengan perlindungan hak dan kerahasiaan pribadi Mama Sinta yang diduga dilanggar lewat pemutaran film dokumenter itu.
Dalam beberapa hari terakhir, Haji Isam dan Mama Sinta telah menjadi sorotan karena aksi dan pernyataan mereka. Namun, perlu diingat bahwa setiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka inginkan, asalkan tidak melanggar hukum dan norma sosial.
Oleh karena itu, penting untuk memahami dan menghargai perbedaan serta keunikan setiap individu, serta memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengekspresikan diri dan menyampaikan pendapatnya.











