BERITA

Mengenal Kalender Jawa: Makna 1 Suro dan Weton Rabu Kliwon

×

Mengenal Kalender Jawa: Makna 1 Suro dan Weton Rabu Kliwon

Share this article
Mengenal Kalender Jawa: Makna 1 Suro dan Weton Rabu Kliwon
Mengenal Kalender Jawa: Makna 1 Suro dan Weton Rabu Kliwon

GemaWarta – 17 Juni 2026 | Kalender Jawa memiliki sistem penanggalan yang unik dan kaya akan makna. Salah satu tanggal penting dalam kalender Jawa adalah 1 Suro, yang bertepatan dengan awal tahun baru dalam penanggalan Jawa. Pada tahun 2026, 1 Suro jatuh pada hari Rabu Kliwon, 17 Juni 2026, dan berbarengan dengan wuku Galungan.

Perpaduan antara Rabu Kliwon dan hari sakral 1 Suro ini melahirkan pribadi yang sangat karismatik, cerdas, berjiwa pemimpin, namun tetap memiliki empati dan rasa welas asih. Rezeki mereka diramalkan akan mengalir dengan kokoh dan stabil hingga usia tua, asalkan mereka mampu mengendalikan ego dan tidak terjebak dalam kesombongan materi atas pencapaian yang telah diraih.

🔖 Baca juga:
Garuda Indonesia Bergeliat: Kebijakan Fleksibel, Kepemimpinan Baru di Ancol, dan Kebangkitan Film ‘Garuda di Dadaku’

Bagi masyarakat tradisional Jawa, bertemunya hari Raya 1 Suro dengan weton Rabu Kliwon bukanlah sekadar kebetulan matematis kalender. Melainkan sebuah sinergi kosmis langka yang melambangkan kebangkitan kesadaran batin, pembersihan jiwa (ruwatan), serta awal dari perjalanan hidup yang baru.

Sinergi antara nilai neptu Rabu Kliwon yang berkarakter mencerahkan dengan karakteristik Wuku Galungan yang membawa simbol kemenangan kebaikan atas keburukan, memberikan sebuah peta panduan hidup yang utuh bagi kita untuk memahami potensi watak asli, menyiasati pasang surutnya roda peruntungan rezeki. Serta merajut keharmonisan hubungan asmara agar senantiasa berjalan selaras dengan kehendak Sang Pencipta alam semesta.

Seseorang yang lahir pada Rabu Kliwon memikul jumlah Neptu 15, hasil dari penjumlahan Rabu (7) dan Kliwon (8), dengan watak utama yang digambarkan sebagai Lakuning Srengenge atau bertingkah laku layaknya matahari. Karakter dasarnya adalah sosok yang berwibawa, mencerahkan, disiplin tinggi, serta selalu menepati janji sehingga perkataannya sangat didengar dan dihormati oleh orang lain.

🔖 Baca juga:
Jadwal Salat dan Buka Puasa di Bandung Hari Ini, Senin 1 Juni 2026

Wuku Galungan berada di bawah naungan Batara Kamajaya, dewa yang melambangkan kedamaian batin, ketenteraman, kesetiaan, serta ketampanan atau kecantikan rupa. Dalam masyarakat Jawa, malam 1 Suro dianggap sebagai malam yang sakral dan memiliki nilai spiritual. Tak heran jika berbagai daerah di Jawa memiliki tradisi khusus untuk menyambut malam 1 Suro, seperti kirab budaya, tirakatan, hingga ritual adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Masyarakat Jawa mengenal istilah Sura yang berkaitan dengan kata Asyura, yakni hari ke-10 bulan Muharam dalam kalender Islam. Dalam pengucapan masyarakat Jawa, istilah Asyura kemudian dikenal sebagai Sura. Kalender Jawa yang disusun pada masa Sultan Agung dimulai pada 1 Sura tahun Alip 1555 Jawa, bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah atau 8 Juli 1633 Masehi.

Sebagian masyarakat Jawa masih mempercayai berbagai pantangan pada malam 1 Suro, seperti menggelar hajatan, melakukan perjalanan jauh, berkonflik atau bertengkar, keluar rumah pada malam hari, tenggelam dalam aktivitas duniawi, membangun atau pindah rumah, dan berisik serta berkata kasar. Pantangan-pantangan ini dipercaya dapat membawa kesialan jika dilanggar.

🔖 Baca juga:
JASAD Gianyar Kaku Berjam-jam Usai Konser HUT ke-255, Polisi Selidiki Penyebab Kematian

Dalam kalender Jawa, setiap hari tidak hanya dihitung berdasarkan sistem Masehi, tetapi menggunakan lima siklus pasaran, yaitu Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi. Kombinasi antara hari dan pasaran disebut weton, yang dipercaya memiliki makna khusus dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Masyarakat mempercayai perhitungan weton dan pasaran Jawa untuk menentukan hari baik untuk pernikahan, pindah rumah, hingga acara adat lainnya. Dengan memahami makna di balik kalender Jawa dan weton, diharapkan kita dapat meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan alam serta sesama.

Kesimpulan, kalender Jawa merupakan warisan budaya yang kaya dan sarat makna. Dengan memahami dan menghormati tradisi ini, kita dapat meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan alam serta sesama. Oleh karena itu, penting untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya ini agar tetap relevan dan bermanfaat bagi masyarakat modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *