Ekonomi

Rupiah Mengalami Penguatan Terhadap Dolar AS, Ini Penyebabnya

×

Rupiah Mengalami Penguatan Terhadap Dolar AS, Ini Penyebabnya

Share this article
Rupiah Mengalami Penguatan Terhadap Dolar AS, Ini Penyebabnya
Rupiah Mengalami Penguatan Terhadap Dolar AS, Ini Penyebabnya

GemaWarta – 19 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah pada 17 Juni 2026 tercatat sebesar Rp17.730 per dolar AS, atau menguat 0,76% dibandingkan dengan level akhir Mei 2026.

Menurut Perry, penguatan ini tak lepas dari intervensi BI di tengah ketidakpastian global serta tingginya permintaan valas dari korporasi dalam negeri. Intensitas intervensi valuta asing ditingkatkan, baik melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri offshore maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri.

🔖 Baca juga:
Rupiah Terus Melemah, Apa yang Harus Dilakukan?

BI juga menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) demi menarik daya tarik investor asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Posisi SRBI pada 15 Juni 2026 tercatat sebesar Rp1.021,1 triliun. Dari total tersebut, kepemilikan non-residen yang meningkat menjadi Rp238,1 triliun atau 23,3% dari total outstanding.

Hal ini turut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Bank Indonesia juga memberikan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai, hedging swap bagi investor asing sebesar 10% karena semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.

BI juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam mata uang Yuan (Chinese Renminbi/RMB) terhadap Rupiah secara offshore. Hal ini sejalan dengan semakin luasnya penggunaan mata uang lokal (local currency transaction/LCT) dalam penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi kedua negara.

🔖 Baca juga:
Kenaikan BI Rate dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia

Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,26% ke 100,34. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat dalam perdagangan intraday hari ini rupiah sempat terdepresiasi sebesar 60 poin, namun pelemahan yang terjadi di akhir sesi mengecil sehingga rupiah berakhir di Rp17.794 per dolar AS.

Menurutnya, hari ini pasar keuangan diserapi oleh sentimen dari kebijakan moneter. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%.

🔖 Baca juga:
Suspensi BEI atas Lonjakan Spektakuler Saham WBSA: Harga Meroket 691% di Tengah Gejolak Rupiah dan Minyak

Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.

Pelaku pasar hari ini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) yang berlangsung dua hari sejak Rabu. RDG hari ini akan memutuskan apa langkah BI untuk menjaga nilai tukar rupiah, apakah tetap akan mempertahankan atau menaikkan lagi BI-Rate.

Kesimpulan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merupakan dampak dari intervensi BI dan kebijakan moneter yang diambil. Bank Indonesia akan terus memantau dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *