GemaWarta – 20 April 2026 | Jumat, 17 April 2026, umat Katolik dan Kristen di Indonesia memasuki fase penting dalam siklus liturgi tahunan, yaitu Minggu Paskah III. Minggu ketiga setelah kebangkitan Kristus menandai masa pemulihan spiritual yang intens, dengan kalender liturgi menandai Senin 20 April 2026 dan Selasa 21 April 2026 sebagai hari biasa dalam pekan ketiga Paskah. Pada hari-hari ini, liturgi menekankan tema kebangkitan yang menggerakkan iman, sekaligus mengundang umat untuk merenungkan transformasi hidup pribadi menuju kebebasan dari dosa.
Pada kesempatan tersebut, para pemuka gereja sering menyampaikan pidato singkat yang sarat makna. Contoh pidato yang beredar di media sosial menyoroti kematian Yesus sebagai pintu gerbang hidup baru, menegaskan bahwa kasih Kristus membuka jalan bagi damai sejahtera. Dalam pidato tersebut, penceramah mengutip Yohanes 16:33, menekankan bahwa meskipun dunia penuh penderitaan, umat dapat menemukan kekuatan dalam kemenangan Kristus. Selanjutnya, ia mengajak jemaat meninggalkan “manusia lama” dan mengadopsi sikap baru yang selaras dengan nilai-nilai Kristus, seperti kasih, pengampunan, dan pelayanan kepada sesama.
Perayaan liturgi di beberapa paroki pada Minggu Paskah III 2026 juga diperkaya dengan unsur musik rohani, doa-doa khusus, dan renungan yang menekankan kebangkitan sebagai titik balik moral. Umat diajak untuk tidak hanya merayakan kebangkitan historis, tetapi juga mengimplementasikan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, seperti menolak kebiasaan merusak, meningkatkan kepedulian sosial, dan memperkuat komunitas gerejawi.
Sementara itu, di Jakarta, pada Sabtu 18 April 2026, Perayaan Paskah Raya Persaudaraan Warga Gereja‑gereja se‑Sumatera Utara (PWGP) menggelar ibadah khidmat di Gedung Manggala Wanabakti. Acara mengusung tema “Dari Kematian Menuju Kehidupan” yang selaras dengan semangat Minggu Paskah III. Ibadah dipimpin oleh Pdt. Krismas Imanta Barus, M.Th, yang menekankan transformasi hidup sebagai inti kebangkitan. Ia menyatakan, “Paskah bukan sekadar peringatan, tetapi momentum perubahan. Dari kematian menuju kehidupan berarti meninggalkan hal‑hal yang merusak dan beralih pada nilai yang membangun.”
Acara PWGP tidak hanya menjadi ibadah, melainkan juga forum dialog antar‑denominasi. Ephorus HKBP, Dr. Viktor Tinambunan, menegaskan Sumatera Utara sebagai laboratorium kerukunan, menekankan bahwa perbedaan denominasi harus menjadi kekuatan persatuan. Ia menyoroti peran gereja dalam menangani isu‑isu sosial modern, seperti narkoba, judi online, dan pinjaman ilegal, dengan menekankan pentingnya moralitas Kristiani dalam membimbing generasi muda.
Selain khotbah, perayaan tersebut menyertakan seminar untuk pemuda, yang membahas kepemimpinan berbasis iman dan integritas. Ketua Panitia, Ir. Dumoly F. Pardede, MBA, mengapresiasi dukungan tokoh nasional, termasuk utusan khusus Presiden RI dan para akademisi terkemuka, yang hadir sebagai simbol dukungan lintas sektor terhadap persatuan umat Kristiani.
Secara keseluruhan, Minggu Paskah III 2026 menjadi momen penting bagi gereja‑gereja di Indonesia untuk memperdalam makna kebangkitan, menguatkan komitmen moral, dan memperluas jaringan persaudaraan lintas denominasi. Dari liturgi harian hingga perayaan besar PWGP, pesan utama tetap konsisten: kebangkitan Kristus menuntun umat untuk meninggalkan kegelapan, mengadopsi kehidupan baru, dan berkontribusi pada pembangunan sosial yang lebih adil dan damai.
- Liturgi Minggu Paskah III menekankan refleksi pribadi dan transformasi hidup.
- Pidato kebangkitan mengajak jemaat meninggalkan perilaku merusak.
- PWGP menegaskan persatuan gereja Sumatera Utara di perantauan.
- Seminar pemuda memperkuat kepemimpinan berbasis iman.
- Kolaborasi lintas denominasi dan dukungan tokoh nasional memperkuat dampak sosial.











