GemaWarta – 21 April 2026 | JAKARTA, 20 April 2026 – Pada kesempatan berbahasa Indonesia, para pemuka agama, akademisi, dan aktivis sosial memperdalam makna kasih sayang yang tertera dalam Surah Ar‑Rum ayat 21. Ayat yang berbunyi, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenang kepadanya, dan dijadikan-Nya antara kamu rasa kasih dan sayang,” menjadi titik tolak refleksi mengenai hubungan antar‑manusia dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Berbeda dengan sekadar pernyataan teoritis, renungan ini mengaitkan ayat suci dengan praktik ikhlas dalam beramal yang sering menjadi tema kultum singkat di media keagamaan. Seperti yang diungkapkan dalam sebuah artikel Kultum singkat tentang ikhlas beramal, ikhlas adalah fondasi utama yang menentukan diterimanya amal ibadah. Tanpa niat yang murni, amal sebesar apa pun tidak akan mendapatkan pahala yang diharapkan.
Kasih Sayang Sebagai Manifestasi Iman
Kasih sayang yang disebutkan dalam ayat 21 tidak hanya bersifat emosional semata, melainkan merupakan implementasi nyata dari keimanan. Imam Al‑Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kasih sayang menumbuhkan sikap saling menghargai, menolak kepentingan duniawi, serta menekankan kebersamaan yang berlandaskan keikhlasan. Dengan menghubungkan konsep ini pada konteks modern, para ulama menekankan pentingnya menginternalisasi nilai kasih sayang dalam setiap tindakan sosial, seperti sedekah, gotong‑royong, dan pelayanan masyarakat.
Dalam praktiknya, nilai kasih sayang tercermin ketika seorang Muslim menolong tetangganya tanpa mengharapkan imbalan. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niatnya,” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, setiap amal harus dilandasi niat yang tulus demi menegakkan rasa kasih dan sayang yang diamanatkan Allah.
Pengaruh Kasih Sayang dalam Keluarga dan Masyarakat
Penelitian sosiologi Islam menunjukkan bahwa keluarga yang menerapkan nilai kasih sayang sebagaimana dijelaskan dalam ayat Ar‑Rum memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Pasangan suami‑istri yang saling mencintai dan menghormati menjadi contoh utama bagi generasi berikutnya. Di tingkat masyarakat, rasa kasih sayang memicu terbentuknya jaringan sosial yang kuat, meminimalisir konflik, serta meningkatkan solidaritas.
Berbagai inisiatif keagamaan di Indonesia, seperti program Pengajian Akhlak dan Kultum Ikhlas, secara rutin menyisipkan tema kasih sayang dalam ceramah mereka. Hal ini memperkuat kesadaran bahwa kasih sayang bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab kolektif yang harus dijaga dan ditumbuhkan.
Kasih Sayang dalam Konteks Ekonomi dan Kesejahteraan
Kasih sayang juga memiliki implikasi ekonomi. Ketika pelaku bisnis mengedepankan etika kasih sayang, mereka cenderung menjalankan usaha secara berkelanjutan, mengutamakan kesejahteraan karyawan, serta memberikan kontribusi sosial. Konsep Islamic Finance menekankan keadilan dan kepedulian, selaras dengan pesan ayat 21 yang mengajak manusia untuk hidup dalam rasa damai dan kasih.
Di sektor kesehatan, program bantuan kesehatan berbasis gotong‑royong menunjukkan bagaimana nilai kasih sayang dapat menurunkan angka kematian dan meningkatkan akses layanan medis di daerah terpencil. Ini menjadi bukti nyata bahwa ajaran Quran tidak terpisah dari tantangan dunia kontemporer.
Kesimpulan
Renungan mengenai kasih sayang dalam Surat Ar‑Rum ayat 21 menegaskan bahwa nilai spiritual dapat diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Dengan menggabungkan konsep ikhlas beramal, etika sosial, dan tanggung jawab ekonomi, umat Islam dapat menghidupkan kembali makna ayat tersebut dalam kehidupan sehari‑hari. Sebagai masyarakat yang berpegang pada Al‑Qur’an, Indonesia diharapkan terus menjadi contoh dalam menebarkan rasa kasih dan sayang yang menyejahterakan semua lapisan.











