GemaWarta – 21 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – Pasangan selebriti Indonesia, Davina Karamoy dan Ardhito Pramono, kembali menjadi buah bibir publik setelah mengunggah serangkaian video dan foto mesra di kawasan bersejarah Kota Tua, Jakarta. Unggahan yang menampilkan keduanya berpelukan, bergandengan tangan, hingga mencium pipi secara bergantian itu memicu beragam reaksi netizen, mulai dari pujian hingga tuduhan bahwa momen tersebut merupakan sebuah gimmick yang disusun untuk menutupi isu-isu sebelumnya.
Dalam video berdurasi singkat yang diposting di akun Instagram pribadi Ardhito, tampak pasangan tersebut berjalan di antara bangunan kolonial, tersenyum lebar, dan sesekali mengangkat bahu seakan mengabadikan kebahagiaan mereka di depan kamera. Kesesuaian gerak tubuh dan ekspresi wajah keduanya menjadi bahan analisis bagi para pengamat media sosial. Beberapa netizen menilai bahwa interaksi mereka terlihat “tidak natural”, menandakan kemungkinan adanya pengarahan atau skenario yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Di sisi lain, para penggemar setia Ardhito menanggapi dengan nada lebih empatik. Mereka mengaku sempat menjadi pengagum berat karya musik Ardhito sejak debutnya, namun kini merasa kecewa karena dugaan bahwa hubungan ini hanyalah sebuah sandaran untuk menutup kabar perselingkuhan Davina dengan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, yang sempat ramai diperbincangkan pada akhir 2025. “Aku masih mendukung karya Dito, tapi jika memang ini hanya gimmick, maka harapannya menjadi pupus,” tulis salah satu netizen.
Isu tentang Davina Karamoy yang dikaitkan sebagai orang ketiga dalam hubungan Dito Ariotedjo memang sempat menguasai percakapan daring. Pada akhir tahun lalu, sejumlah postingan anonim menyebutkan inisial “DK” yang dihubungkan dengan Davina, menimbulkan spekulasi bahwa ia terlibat dalam hubungan di luar pernikahan Dito. Meskipun Davina menyatakan kebingungan atas tuduhan tersebut, ia tidak mengajukan gugatan hukum untuk melindungi reputasinya.
Sejumlah komentar menggarisbawahi bahwa publik kini semakin skeptis terhadap aksi-aksi romantis yang dipublikasikan di media sosial. Salah satu komentar menuliskan, “Apakah ini memang kebahagiaan mereka atau hanya strategi PR untuk mengalihkan perhatian dari skandal sebelumnya?” Sementara komentar lain menambahkan, “Kita tidak bisa menilai keaslian perasaan hanya dari sebuah video. Namun, jika memang ada unsur pengaturan, maka kredibilitas mereka di mata publik akan menurun.”
Para pakar komunikasi menilai fenomena ini sebagai contoh klasik dari “relationship branding”, yakni upaya selebriti memperkuat citra pribadi melalui narasi hubungan romantis yang tampak otentik. Dalam era digital, batas antara kehidupan pribadi dan strategi pemasaran menjadi semakin kabur. “Kemesraan Davina Karamoy dapat menjadi aset nilai jual bagi kedua artis, terutama bila mereka mengaitkannya dengan proyek musik atau kampanye iklan,” ujar Dr. Rina Suryani, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.
Meskipun demikian, tidak sedikit pula netizen yang tetap memberikan dukungan kepada pasangan tersebut. Beberapa mengingatkan bahwa setiap orang berhak atas privasi dan kebahagiaan, serta menekankan pentingnya menahan diri dari penilaian prematur. “Jika mereka memang bahagia, biarkan saja. Kita tidak perlu menjadi hakim atas hubungan mereka,” komentar seorang pengguna dengan username @wulan***.
Secara keseluruhan, perdebatan mengenai apakah Kemesraan Davina Karamoy merupakan wujud cinta sejati atau sekadar gimmick masih jauh dari kata selesai. Sementara media terus menyoroti setiap langkah mereka, pasangan ini tampaknya tetap konsisten menampilkan sisi romantis mereka di depan publik, baik melalui foto di kafe bergaya vintage maupun video singkat di tengah jalan berbatu Kota Tua. Ke depan, bagaimana respons publik akan memengaruhi karier dan citra mereka masih menjadi pertanyaan terbuka.
Yang pasti, fenomena ini menegaskan bahwa era media sosial menuntut selebriti untuk lebih berhati-hati dalam menyeimbangkan antara keautentikan pribadi dan strategi pemasaran, terutama ketika sejarah pribadi mereka pernah menjadi sorotan tajam. Bagi Davina Karamoy dan Ardhito Pramono, tantangan selanjutnya adalah mempertahankan kredibilitas di tengah gelombang spekulasi yang terus mengalir.











