GemaWarta – 24 Juni 2026 | Puasa Asyura dan Tasua merupakan dua ibadah sunah yang memiliki landasan dalil yang kuat serta keutamaan yang sangat besar. Pada momentum bulan Muharram 1448 H ini, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan kesempatan emas tersebut dengan menunaikan puasa sesuai dengan jadwal yang diyakini.
Perbedaan penentuan 1 Muharram 1448 H antara pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) menyebabkan adanya selisih jadwal pelaksanaan puasa Tasua dan Asyura. Kementerian Agama (Kemenag) RI, yang keputusannya sejalan dengan Muhammadiyah, menetapkan 1 Muharram 1448 H jatuh pada 16 Juni 2026 berdasarkan kriteria imkanur rukyat MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura).
Sementara itu, Lembaga Falakiyah PBNU melalui Surat Penjelasan Rukyat Muharram 1448 H menetapkan 1 Muharram jatuh pada 17 Juni 2026. Berikut adalah rincian jadwal pelaksanaan puasa Tasua dan Asyura berdasarkan kedua ketetapan tersebut:
- Versi Pemerintah dan Muhammadiyah: Puasa Tasua (9 Muharam): Rabu, 24 Juni 2026; Puasa Asyura (10 Muharam): Kamis, 25 Juni 2026
- Versi Nahdlatul Ulama (NU): Puasa Tasua (9 Muharam): Kamis, 25 Juni 2026; Puasa Asyura (10 Muharam): Jumat, 26 Juni 2026
Untuk pelaksanaannya, umat Islam dapat mengikuti pilihan jadwal di atas sesuai dengan keyakinan maupun ketetapan organisasi keagamaan yang diikuti. Melafalkan niat merupakan salah satu syarat sah dalam menjalankan ibadah puasa. Niat ini dapat dihadirkan di dalam hati maupun dilafalkan secara lisan, mulai dari malam hari hingga sebelum terbitnya fajar.
Merujuk pada laman Universitas Komputama Cilacap, berikut adalah lafal niat untuk masing-masing puasa: Niat Puasa Tasua (9 Muharam): Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnatit Tasu’a lillahi ta’ala. Artinya: "Saya berniat puasa sunah Tasua esok hari karena Allah ta’ala." Niat Puasa Asyura (10 Muharam): Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnatil ‘Asyura lillahi ta’ala. Artinya: "Saya berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah ta’ala."
Tata cara pelaksanaan puasa Tasua dan Asyura sama seperti ibadah puasa sunah pada umumnya. Berikut adalah panduan ringkasnya: Membaca Niat: Niat dihadirkan di dalam hati atau dilafalkan secara lisan pada malam hari sebelum azan Subuh berkumandang. Makan Sahur: Umat Islam sangat dianjurkan untuk menyantap hidangan sahur menjelang waktu Subuh demi meraih keberkahan, meskipun sahur bukanlah syarat mutlak sahnya puasa.
Menahan Diri: Menjaga diri dari makan, minum, serta segala hal yang dapat membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar (waktu Subuh) hingga terbenamnya matahari (waktu Magrib). Menyegerakan Berbuka: Segera membatalkan puasa (takjil) begitu azan Magrib berkumandang.
Keutamaan puasa di bulan Muharram menempati kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Keutamaan ini bersandar pada hadis-hadis sahih, salah satunya adalah riwayat Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: "Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharam, dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam." (HR Muslim)
Berdasarkan laman Universitas Komputama Cilacap, berikut adalah beberapa keutamaan utama dari puasa Tasua dan Asyura: Puasa Paling Afdal Setelah Ramadan: Puasa yang dikerjakan pada bulan Muharam secara umum dinilai sebagai puasa sunah yang paling utama setelah puasa wajib di bulan Ramadan. Menghapuskan Dosa Setahun yang Lalu: Puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharam memiliki keutamaan khusus, yakni diyakini dapat melebur dosa-dosa kecil setahun ke belakang.
Menyelisihi Kebiasaan Kaum Yahudi: Syariat puasa Tasua pada 9 Muharam ditujukan untuk menyelisihi tradisi kaum Yahudi yang hanya mengagungkan tanggal 10 Muharam, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. (HR Muslim no. 1134/2666). Menunaikan Cita-cita Rasulullah SAW: Puasa Tasua merupakan salah satu ibadah yang sangat ingin dikerjakan oleh Rasulullah SAW di tahun berikutnya, namun beliau telah wafat sebelum kesempatan tersebut tiba.
Puasa Tasua dan Asyura merupakan dua ibadah sunah yang memiliki landasan dalil yang kuat serta keutamaan yang sangat besar. Pada momentum bulan Muharram 1448 H ini, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan kesempatan emas tersebut dengan menunaikan puasa sesuai dengan jadwal yang diyakini. Bagaimanapun, keikhlasan niat serta kesesuaian tata cara dengan tuntunan syariat tetap menjadi kunci utama diterimanya ibadah ini di sisi Allah SWT.
Kesimpulan, puasa Asyura dan Tasua memiliki keutamaan yang sangat besar dan merupakan ibadah sunah yang sangat penting dalam Islam. Umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan kesempatan emas ini dengan menunaikan puasa sesuai dengan jadwal yang diyakini dan melakukan tata cara yang sesuai dengan tuntunan syariat.











