Religi

Remaja Rizki, 17 Tahun, Jadi Jemaah Haji Termuda yang Menginspirasi Generasi Muda

×

Remaja Rizki, 17 Tahun, Jadi Jemaah Haji Termuda yang Menginspirasi Generasi Muda

Share this article
Remaja Rizki, 17 Tahun, Jadi Jemaah Haji Termuda yang Menginspirasi Generasi Muda
Remaja Rizki, 17 Tahun, Jadi Jemaah Haji Termuda yang Menginspirasi Generasi Muda

GemaWarta – 27 April 2026 | Seorang remaja bernama Rizki berhasil menembus batas usia minimal yang baru ditetapkan pemerintah dan menjadi jemaah haji termuda pada musim haji 1447 Hijriah/2026. Pada usia 17 tahun, Rizki berangkat bersama keluarganya dari Mataram, Nusa Tenggara Barat, menandai perubahan signifikan dalam regulasi Kementerian Haji dan Umrah yang menurunkan batas usia minimal menjadi 13 tahun.

Rizki, yang berasal dari keluarga sederhana di Gomong Barat, terpilih menjadi salah satu 809 calon haji yang akan berangkat dalam tiga kloter. Ia tergabung di kloter 5 yang berangkat pada 27 April 2026. Keputusan berangkatnya tidak lepas dari kisah tragis ayahnya yang meninggal pada 2021. Seperti yang pernah dialami oleh Fasya Abiyyu Ramdhani, remaja 17‑tahun asal NTB, Rizki menggantikan almarhum ayahnya yang sebelumnya terdaftar sebagai calon jamaah haji.

🔖 Baca juga:
Harga BBM Naik dan B50 Siap Diluncurkan: Dampak Kebijakan Energi Nasional di Tengah Krisis Global

Regulasi baru Peraturan Menteri Haji dan Umrah Nomor 3 Tahun 2025 yang menurunkan batas usia minimum menjadi 13 tahun membuka peluang bagi anak‑anak muda seperti Rizki, Aysilla Naila Sari (15 tahun) dari Surabaya, Latifa Syafvina (15 tahun) dari Padang, dan Dhani Aditya (17 tahun) dari Bali untuk menunaikan ibadah haji. Sebelumnya, Undang‑Undang Nomor 8 Tahun 2019 mensyaratkan usia minimal 18 tahun atau sudah menikah.

Persiapan Rizki dimulai sejak usia 12 tahun ketika ibunya mendaftarkannya sebagai calon haji untuk menggantikan ayah. Ia menjalani serangkaian program manasik yang diselenggarakan oleh Kemenhaj, termasuk pelatihan fisik, pemahaman tata cara ibadah, serta kelas kecakapan mental. Berikut rangkaian persiapan Rizki:

🔖 Baca juga:
UNIFIL Umumkan Wafatnya Praka Rico, TNI Kehilangan Prajurit di Lebanon
  • Latihan kebugaran: jogging bersama ibu tiga kali seminggu, latihan kardio dan beban ringan.
  • Manasik haji: simulasi pelaksanaan tawaf, sa’i, dan wukuf di Mina melalui aplikasi digital.
  • Pembekalan agama: belajar tafsir Al‑Qur’an, hadis tentang haji, dan etika berinteraksi di Tanah Suci.
  • Persiapan mental: sesi konseling kelompok remaja untuk mengatasi rasa cemas dan menumbuhkan rasa tanggung jawab.

Rizki juga menyiapkan perlengkapan pribadi yang unik, seperti membawa minyak telon, sambal khas Lombok, dan camilan ringan untuk mengisi energi selama perjalanan. Ia menegaskan bahwa persiapan bukan sekadar fisik, melainkan juga keinginan untuk menikmati momen kebersamaan dengan keluarga, terutama ibunya yang menjadi satu-satunya orang tua yang masih hidup.

Berangkat bersama dua kakak dan orang tua, Rizki mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. “Saya tidak menyangka bisa berada di sini pada usia 17 tahun, dan saya berharap dapat menjadi contoh bagi teman‑teman sebaya,” ujarnya di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, sebelum berangkat ke Arab Saudi. Selama perjalanan, ia berjanji akan menjaga ibunya, menjaga kesehatan, serta melaksanakan semua rukun haji dengan sepenuh hati.

🔖 Baca juga:
Saham Salim Ivomas Pratama Melejit 12,7%: Bintang Baru di Langit IHSG 2026

Kisah Rizki menambah deretan contoh inspiratif remaja yang menembus batas usia tradisional dalam menunaikan ibadah haji. Dari Aysilla yang berangkat di usia 15 tahun, Latifa yang menunaikan haji bersama ibunya, hingga Dhani yang mengaku khawatir akan durasi 40 hari di Tanah Suci, semua menunjukkan semangat generasi Z yang siap mengemban tanggung jawab spiritual sejak dini.

Dengan regulasi yang lebih fleksibel, diharapkan lebih banyak anak muda dapat mengakses kesempatan beribadah haji, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya persiapan fisik dan mental. Cerita Rizki menjadi bukti nyata bahwa usia bukan penghalang untuk menunaikan panggilan suci, melainkan motivasi untuk mempersiapkan diri sebaik‑baiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *