GemaWarta – 22 April 2026 | Chow Yun Fat, aktor legendaris Hong Kong yang dikenal lewat peran ikonik dalam film seperti A Better Tomorrow dan God of Gamblers, memiliki total aset properti bernilai lebih dari satu miliar dolar Hong Kong atau sekitar Rp 2,1 triliun. Meski berada di puncak kemewahan dunia hiburan, ia tetap memilih gaya hidup yang jauh dari kemewahan, termasuk kebiasaan naik transportasi umum setiap hari.
Portofolio properti Chow Yun Fat mencakup setidaknya delapan unit rumah dan satu bidang tanah di kawasan elit Hong Kong, antara lain The Peak, Kowloon Tong, Prince Edward, hingga Sai Kung. Nilai total properti diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS, menjadikannya salah satu aktor terkaya di Asia. Salah satu investasi paling mencolok adalah vila di Kowloon Tong yang dibeli pada tahun 1990 seharga 14,7 juta dolar Hong Kong dan kini bernilai sekitar 200 juta dolar Hong Kong.
Selain vila di Kowloon Tong, Chow Yun Fat juga memiliki rumah mewah di The Peak dengan harga pembelian 128 juta dolar Hong Kong, lengkap dengan taman pribadi dan pemandangan laut yang menakjubkan. Properti-properti tersebut menunjukkan betapa besarnya kekayaan yang dapat ia kumpulkan selama hampir lima dekade karier di layar lebar, baik di pasar Asia maupun Hollywood.
Namun, kekayaan tersebut tidak mengubah kebiasaan sehari-harinya. Chow Yun Fat kerap terlihat naik bus, trem, dan kereta bawah tanah di Hong Kong. Ia mengaku bahwa menggunakan transportasi publik memberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan warga biasa, sehingga ia tetap terasa dekat dengan publik. Di luar jam kerja, ia rutin jogging di taman kota, mendaki jalur gunung, dan berpartisipasi dalam acara maraton, termasuk menyelesaikan Hong Kong Marathon pada usia 70 tahun.
Dalam wawancara, Chow Yun Fat pernah menyatakan niatnya untuk menyumbangkan sebagian besar hartanya kepada lembaga amal. Baginya, uang hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Pandangan ini memperkuat citranya sebagai “miliarder paling sederhana”, sebuah label yang diberikan oleh warga lokal yang mengagumi sikapnya yang tidak mengedepankan kemewahan pribadi.
Sementara itu, dunia hiburan lainnya menunjukkan dinamika yang berbeda. Contohnya, aktris Amerika Sydney Sweeney yang sempat merekam cameo dalam film The Devil Wears Prada 2 namun akhirnya adegannya dihapus karena pertimbangan kreatif. Keputusan ini menyoroti bagaimana selebritas Barat seringkali harus menyesuaikan diri dengan keputusan produksi yang dapat mengubah eksposur publik mereka, berbeda dengan kebijakan pribadi Chow Yun Fat yang secara konsisten menolak sorotan berlebihan.
Perbandingan tersebut menegaskan bahwa tidak semua selebriti menempatkan nilai yang sama pada eksposur dan kemewahan. Chow Yun Fat memilih untuk tetap membumi, memanfaatkan transportasi umum, dan menjalin kedekatan dengan penggemar tanpa sekat eksklusif, sementara Sydney Sweeney menghadapi perubahan peran dalam proyek film yang mengandalkan keputusan produksi. Kedua contoh memperlihatkan spektrum pilihan yang luas di kalangan publik figur.
Kesimpulannya, keberhasilan finansial Chow Yun Fat tidak menghalangi ia untuk hidup sederhana, menggunakan transportasi umum, dan aktif dalam kegiatan sosial serta kebugaran. Sikapnya menjadi inspirasi bagi generasi baru, menunjukkan bahwa kekayaan dapat dipertahankan tanpa harus mengorbankan nilai kemanusiaan dan kedekatan dengan masyarakat.





