GemaWarta – 23 April 2026 | Insiden tendangan kungfu EPA yang terjadi pada laga Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 melawan Dewa United Banten FC U-20 di Stadion Citarum, Semarang, pada 19 April 2026 kembali menjadi sorotan utama dunia sepak bola muda Indonesia. Dalam video yang beredar di media sosial, pemain Timnas Indonesia U-20, Fadly Alberto Hengga, terlihat menendang keras pemain Dewa United, Rakha Nurkholis, sehingga menimbulkan luka ringan dan menodai citra kompetisi Elite Pro Academy (EPA) U-20.
Pelatih Persija Jakarta, Mauricio Souza, yang juga menjadi juru taktik tim senior, menanggapi insiden tersebut dengan tegas. Souza menyatakan bahwa perilaku anarkis di lapangan hijau merupakan ancaman serius bagi masa depan sepak bola Indonesia, terutama pada level pembinaan. “Tindakan fisik yang berpotensi mencederai lawan tidak dapat dibenarkan. Kami menuntut sanksi berat bagi pelaku agar pesan ini tersampaikan ke seluruh kontestan EPA,” ujarnya dalam konferensi pers di Bali pada 23 April 2026.
Selain menuntut hukuman disiplin, Souza menegaskan pentingnya pengendalian emosi di antara para pemain muda. Ia menambahkan, “Jika pemain tidak dapat mengontrol diri, maka kualitas permainan akan tergerus dan reputasi kompetisi akan tercoreng.” Pernyataan tersebut selaras dengan komentar striker Persija yang juga tengah dijagokan masuk Timnas, Eksel Runtukahu. Eksel menilai insiden itu tidak patut dicontoh dan mengajak semua pihak untuk lebih sabar serta mengatur emosi saat tensi pertandingan meningkat.
“Saya rasa pemain harus lebih tenang, lebih mengatur emosi, dan tidak mudah terpancing provokasi lawan,” kata Eksel dalam wawancara dengan Bola.net. Ia menekankan bahwa kemampuan mengelola tekanan mental sama pentingnya dengan kemampuan teknis. “Keributan di lapangan hanya akan merugikan tim dan merusak jalannya pertandingan secara keseluruhan,” tegasnya.
Di sisi lain, manajer Bhayangkara U-20, Yongky Pamungkas, mengungkapkan bahwa timnya telah menawarkan pemeriksaan medis (visum) kepada pemain Dewa United yang terlihat terluka, namun tawaran tersebut ditolak. Yongky menilai narasi publik yang menyudutkan Fadly Alberto tidak adil dan menegaskan kesiapan klub untuk memberikan kronologi lengkap dalam proses mediasi bersama manajemen Dewa United.
Pihak Bhayangkara juga menyoroti bahwa insiden bermula setelah gol kemenangan 2-1 Dewa United yang dipertanyakan offside oleh pemain Bhayangkara. Meskipun gol tersebut tetap disahkan, ketegangan meningkat dan berujung pada aksi fisik yang melanggar etika sepak bola.
Komite Disiplin PSSI (Komdis) kini berada di bawah tekanan untuk mengambil keputusan tegas. Sanksi yang dipertimbangkan meliputi denda berat, skorsing pertandingan, dan pelatihan ulang tentang sportivitas bagi semua pemain yang terlibat. Fadly Alberto sendiri sudah mengeluarkan permintaan maaf publik melalui unggahan media sosial, menyatakan penyesalan atas perbuatan yang dianggapnya bodoh dan mencoreng nama baik Timnas Indonesia.
Kasus ini membuka perdebatan lebih luas tentang budaya kompetisi di tingkat usia muda. Beberapa pengamat mengingatkan bahwa EPA seharusnya menjadi wadah pembinaan, bukan arena pertarungan emosional. Mereka menekankan perlunya edukasi psikologis dan program pengendalian stres bagi pemain U-20.
Berikut rangkuman tuntutan utama yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh terkait:
- Penetapan sanksi berat bagi pemain yang melakukan aksi kekerasan (skorsing minimal 3 pertandingan).
- Penerapan denda finansial untuk klub yang terlibat dalam insiden serupa.
- Pelaksanaan workshop kontrol emosi dan sportivitas bagi seluruh kontestan EPA.
- Pengawasan ketat oleh komisi disiplin PSSI dengan transparansi proses mediasi.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan kompetisi EPA U-20 dapat kembali menjadi platform yang mengedepankan pengembangan bakat, sportivitas, dan integritas sepak bola Indonesia. Semua pihak, mulai pelatih, pemain, manajer klub, hingga regulator, diharapkan bersinergi demi menciptakan lingkungan kompetisi yang aman dan mendidik bagi generasi penerus.
Jika sanksi tegas tidak diterapkan, risiko terulangnya aksi serupa akan semakin tinggi, mengancam kredibilitas liga pembinaan dan menurunkan kepercayaan publik terhadap kualitas pelatihan sepak bola nasional.











