BERITA

Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu di Ciliwung Jadi Peringatan Kritis Lingkungan

×

Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu di Ciliwung Jadi Peringatan Kritis Lingkungan

Share this article
Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu di Ciliwung Jadi Peringatan Kritis Lingkungan
Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu di Ciliwung Jadi Peringatan Kritis Lingkungan

GemaWarta – 23 April 2026 | Populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir, menandakan perubahan mendasar pada kualitas air yang telah lama terkontaminasi limbah domestik, industri, dan limpasan perkotaan. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Yusli Wardiatno, menyebut fenomena ini sebagai alarm kuat bahwa sungai sedang “sakit”.

Menurut data yang dirilis oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, operasi penangkapan massal yang dilaksanakan pada 17 April 2026 berhasil mengeluarkan 68.800 ekor ikan sapu-sapu dengan total berat mencapai 6,98 ton. Ikan-ikan tersebut dikubur hidup-hidup untuk mencegah pemanfaatan kembali sebagai bahan pangan, sekaligus sebagai upaya mengendalikan pertumbuhan populasi yang tak terkendali.

🔖 Baca juga:
Jadwal Sholat Jakarta Hari Ini: Lengkap dengan Waktu Isya 19:04 WIB

Spesies invasif ini, yang berasal dari perairan Amazon, memiliki kemampuan beradaptasi luar biasa. Ia dapat bertahan dalam kondisi oksigen rendah, air keruh, serta kandungan logam berat seperti timbal, kadmium, dan merkuri yang terdeteksi di air dan sedimen Ciliwung. Keunggulan biologis ini membuat ikan sapu-sapu mengungguli ikan air tawar lokal yang sebelumnya mendominasi ekosistem sungai-sungai di Jawa.

Berikut beberapa dampak negatif yang muncul akibat dominasi ikan sapu-sapu:

  • Penurunan keanekaragaman hayati karena kompetisi memperebutkan pakan dan ruang hidup.
  • Akurasi bioakumulasi logam berat dalam jaringan tubuh ikan, berpotensi melintasi rantai makanan.
  • Gangguan pada fungsi ekosistem alami, termasuk penurunan kualitas air dan hilangnya spesies endemik.

Yusli menekankan bahwa pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan non‑pangan seperti pakan ternak, pupuk, atau bahan industri harus disertai pengawasan ketat. Proses pengolahan yang tidak bersih dapat menyebabkan logam berat kembali masuk ke tanah atau tanaman, memperpanjang siklus pencemaran.

🔖 Baca juga:
Operasi Besar‑besaran Pemprov DKI: Penangkapan Ikan Sapu‑sapu Mengguncang Ekosistem Jakarta

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa akar masalah invasi ini sering kali bermula dari pelepasan ikan hias ke alam oleh masyarakat. Sekali spesies asing berkembang tanpa kontrol, pemulihan ekosistem menjadi sangat sulit. Oleh karena itu, penangkapan massal dianggap solusi sementara; perbaikan kualitas air dan perubahan perilaku publik menjadi langkah jangka panjang yang esensial.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menambah petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) khusus untuk rutin membersihkan sungai serta mengawasi titik-titik penangkapan. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan tekanan populasi ikan sapu-sapu sekaligus memberikan kesempatan bagi spesies asli untuk kembali pulih.

Meski operasi penangkapan sudah menunjukkan hasil signifikan, tantangan tetap besar. Tanpa perbaikan sistem pengelolaan limbah dan edukasi publik tentang bahaya pelepasan spesies asing, kondisi Ciliwung dapat kembali mengalami gelombang populasi serupa di masa mendatang. Penelitian lanjutan tentang tingkat kontaminasi logam berat serta dampaknya terhadap kesehatan manusia dan ekosistem sangat diperlukan untuk merumuskan kebijakan yang lebih efektif.

🔖 Baca juga:
1000 Lowongan Pramudi Mikrotrans Berdaya Tahap 2 Dibuka: Pendaftaran Gratis hingga 25 April 2026

Dengan kombinasi tindakan penangkapan, rehabilitasi kualitas air, dan peningkatan kesadaran masyarakat, harapan untuk memulihkan keseimbangan ekologi Ciliwung masih terbuka. Namun, keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, peneliti, dan warga kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *