GemaWarta – 24 April 2026 | Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengadakan pembicaraan via telepon pada Selasa 21 April 2026. Kedua pemimpin menegaskan komitmen kuat untuk memperkuat kerja sama bilateral di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Salah satu agenda utama adalah persetujuan ekspor urea sebesar 250.000 ton dari Indonesia ke Australia pada tahap pertama.
Menurut keterangan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Presiden Prabowo telah menandatangani persetujuan tersebut dan mendapatkan apresiasi langsung dari PM Albanese. Menteri Pertanian melaporkan bahwa produksi urea nasional mencapai sekitar 7,8 juta ton per tahun, sementara kebutuhan domestik berada pada level 6,3 juta ton. Dengan selisih produksi yang signifikan, pemerintah menargetkan ekspor total mencapai satu juta ton, mencakup negara‑negara seperti India, Filipina, Thailand, dan Brasil.
Dalam percakapan itu, selain membahas rincian teknis pengiriman pupuk, kedua pemimpin juga menyoroti situasi global, khususnya konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Albanese menekankan pentingnya stabilitas pasokan kebutuhan pokok dan ketahanan rantai pasok energi bagi kedua negara, mengingat ketidakpastian yang dapat memengaruhi harga komoditas internasional.
Berikut ringkasan data penting terkait ekspor urea Indonesia:
- Total produksi urea nasional: 7,8 juta ton per tahun.
- Kebutuhan domestik: 6,3 juta ton per tahun.
- Ekspor urea ke Australia (tahap pertama): 250.000 ton.
- Rencana ekspor ke negara lain (India, Filipina, Thailand, Brasil): sekitar 750.000 ton.
PM Albanese menambahkan bahwa kerja sama ini tidak hanya bersifat komersial, melainkan juga strategis. Ia menegaskan Australia akan terus mengandalkan pasokan pupuk yang stabil untuk menjaga produksi pertanian domestik, terutama di wilayah-wilayah yang sangat bergantung pada impor. “Hubungan yang kuat di kawasan kita semakin penting dari sebelumnya, dan kami adalah sahabat terdekat,” ujar Albanese dalam pernyataannya yang dipublikasikan lewat akun media sosial resmi.
Di sisi Indonesia, pemerintah menekankan bahwa ekspor urea merupakan bagian dari kebijakan diversifikasi pasar serta upaya meningkatkan devisa. Selain itu, dengan menyalurkan surplus produksi ke luar negeri, Indonesia dapat menurunkan tekanan pada stok domestik dan memastikan harga pupuk tetap terjangkau bagi petani.
Para pengamat menilai bahwa keputusan ini akan memberikan dampak positif pada ketahanan pangan regional. Dengan pasokan urea yang cukup, Australia diperkirakan dapat meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya pada komoditas gandum dan barley yang menjadi andalan ekspor negara tersebut. Pada saat yang sama, Indonesia memperkuat posisinya sebagai produsen pupuk utama di Asia Tenggara.
Diskusi telepon tersebut juga mencakup rencana kerja sama di bidang energi, khususnya dalam mengoptimalkan rantai pasok LNG dan memperkuat jaringan energi terbarukan. Kedua pemimpin sepakat untuk menjajaki proyek bersama yang dapat mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil dan meningkatkan keamanan energi di Indo‑Pasifik.
Kesimpulannya, kesepakatan ekspor urea 250 ribu ton menandai babak baru dalam hubungan bilateral Indonesia‑Australia. Langkah strategis ini tidak hanya menjawab kebutuhan pasar pupuk Australia, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam industri pupuk global. Dengan dukungan politik tingkat tinggi, diharapkan kolaborasi ini dapat berlanjut ke sektor‑sektor lain, memperkuat stabilitas ekonomi regional di tengah tantangan global yang terus berkembang.











