GemaWarta – 12 Agustus 2026 | Harga emas Antam mengalami kenaikan tajam sebesar Rp20.000 per gram pada perdagangan hari ini, Selasa, 11 Agustus 2026. Lonjakan signifikan ini juga terjadi pada harga jual kembali (buyback) yang meningkat sebanyak Rp35.000 per gram.
Berdasarkan data dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga emas Antam untuk ukuran 1 gram tercatat naik Rp20.000 dari posisi sebelumnya Rp2.690.000 menjadi Rp2.710.000 per gram. Sementara itu, harga emas buyback juga mengalami kenaikan di level Rp2.546.000 per gram.
Pergerakan harga emas cenderung fluktuatif mengikuti dinamika harga emas dunia serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Perubahan faktor global ini berdampak langsung pada harga jual maupun buyback emas domestik.
Masyarakat dan para investor diimbau untuk terus memantau pergerakan harga secara berkala guna mengambil keputusan jual atau beli emas secara tepat. Harga emas global juga naik ke level tertingginya dalam lebih dari dua bulan, dengan harga emas di pasar spot internasional naik 0,5 persen menjadi US$4.411,7 per ons.
Sementara itu, harga emas berjangka AS naik 1,2 persen menjadi US$4.472,1 per ons. Pelaku pasar menantikan data inflasi AS yang akan memengaruhi prospek kebijakan suku bunga acuan.
Harga emas Antam merupakan produk emas batangan yang diproduksi oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam), perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pertambangan. Emas Antam dinilai mampu membantu menjaga nilai aset ketika terjadi tekanan inflasi.
Inflasi sendiri merupakan kondisi ketika harga berbagai barang dan jasa meningkat secara berkelanjutan dalam periode tertentu. Faktor yang memengaruhi harga emas di pasar internasional atau XAU/USD dapat berubah mengikuti sejumlah sentimen, seperti kebijakan ekonomi, perkembangan geopolitik, nilai tukar dolar Amerika Serikat, serta tingkat permintaan pasar.
Kesimpulan, harga emas Antam mengalami kenaikan tajam sebesar Rp20.000 per gram, dengan harga emas buyback juga mengalami kenaikan di level Rp2.546.000 per gram. Pergerakan harga emas cenderung fluktuatif mengikuti dinamika harga emas dunia serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.











