GemaWarta – 12 Agustus 2026 | Fenomena El Niño kembali menguat, membawa dampak besar bagi cuaca dan iklim di seluruh dunia. El Niño adalah fenomena iklim yang ditandai oleh meningkatnya suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik di atas kondisi normal.
Pemanasan tersebut kemudian dapat mengubah pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di berbagai belahan dunia. Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Pasifik, tetapi dapat memengaruhi pola cuaca secara global.
Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu permukaan laut saat ini berada sekitar tiga derajat Celsius di atas kondisi normal. Semakin hangat suhu laut, semakin besar energi yang tersedia untuk memengaruhi pola cuaca dan memperkuat dampak El Niño di berbagai wilayah.
El Niño dapat menyebabkan cuaca ekstrem seperti gelombang panas, hujan lebat, dan kekeringan. Fenomena ini juga dapat memperburuk situasi bumi yang sebelumnya telah terdampak perubahan iklim.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres mengatakan bahwa El Niño kali ini diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Ia menggambarkan El Niño seperti menambahkan bahan bakar ke api yang sudah menyala.
India telah merasakan dampak El Niño, dengan power demand yang meningkat 6,5-7,5 persen pada tahun ini. Sementara itu, Kenya telah diperingatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi El Niño, dengan 18 kabupaten yang berisiko mengalami dampak parah.
El Niño juga dapat memengaruhi pola cuaca di Australia, dengan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan kekeringan.
Dalam menghadapi fenomena El Niño, penting bagi kita untuk mempersiapkan diri dan mengambil tindakan untuk mengurangi dampaknya. Ini termasuk mempersiapkan sistem drainase, memperkuat infrastruktur, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya El Niño.
Dengan demikian, kita dapat mengurangi risiko dan dampak El Niño, serta memastikan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.











