BERITA

Hujan Tidak Turun, Petani Menghadapi Dilema Kekeringan dan Banjir

×

Hujan Tidak Turun, Petani Menghadapi Dilema Kekeringan dan Banjir

Share this article
Hujan Tidak Turun, Petani Menghadapi Dilema Kekeringan dan Banjir
Hujan Tidak Turun, Petani Menghadapi Dilema Kekeringan dan Banjir

GemaWarta – 12 Agustus 2026 | Petani di Indonesia menghadapi dilema yang berulang setiap pergantian musim. Saat musim hujan, lahan pertanian mereka kerap terendam banjir. Namun ketika kemarau tiba, petani justru harus berhadapan dengan kekeringan hingga kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah.

Kondisi tersebut salah satunya dirasakan Lasih, petani di wilayah Desa Munggugiyanti, Benjeng, Gresik. Ia mengaku sawahnya sudah hampir dua bulan tidak mendapatkan pasokan air. Lasih mengatakan, selama ini kebutuhan air untuk sawah mengandalkan aliran sungai, termasuk Kali Lamong.

🔖 Baca juga:
Gempa Bumi Mengguncang Berbagai Wilayah, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami

Namun memasuki musim kemarau, debit air sungai menyusut hingga tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan. Ironisnya, persoalan yang dihadapi petani berbeda ketika musim berganti. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air justru melimpah dan membuat sawah terendam banjir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini berupa potensi hujan ringan, sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang di berbagai kota besar di Indonesia. BMKG juga mengingatkan untuk mewaspadai potensi hujan dan angin kencang sepekan ke depan hingga 17 Agustus 2026.

🔖 Baca juga:
BMKG: Siklon Tropis Jangmi dan Gempa Bumi Mengancam Indonesia, Ini Penjelasannya

Di sisi lain, ada beberapa wilayah di bumi yang tergolong kering dan jarang menerima hujan. Salah satu contoh adalah McMurdo Dry Valleys di Antartika, yang merupakan salah satu area bebas es terluas di benua putih tersebut. Kawasan ini memiliki kondisi alam ekstrem dengan suhu yang sangat rendah dan angin katabatik yang kencang, sehingga membuat permukaan tanah tetap kering.

Kondisi cuaca yang ekstrem ini membuat petani harus menyesuaikan pola tanam. Menurut Lasih, tanaman jagung masih bisa ditanam di tengah kondisi lahan yang minim air. Namun untuk padi, kebutuhan air jauh lebih besar sehingga sulit dilakukan ketika sawah mengalami kekeringan.

🔖 Baca juga:
BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi dan Hujan di Berbagai Wilayah Indonesia

Dalam beberapa hari ke depan, BMKG memprakirakan sejumlah kota besar akan mengalami hujan ringan, yaitu wilayah Medan, Padang, Tanjung Selor, Ambon, dan Jayapura. Sementara itu, kota besar lainnya diprakirakan hanya akan mengalami kondisi berawan pada hari ini.

Kesimpulan, petani di Indonesia menghadapi dilema yang berulang setiap pergantian musim. Mereka harus menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca yang ekstrem. BMKG terus mengeluarkan peringatan dini untuk mewaspadai potensi hujan dan angin kencang di berbagai kota besar di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *