TEKNO

Peretas Mengancam Keamanan Siber Dunia dengan Teknologi AI Canggih

×

Peretas Mengancam Keamanan Siber Dunia dengan Teknologi AI Canggih

Share this article
Peretas Mengancam Keamanan Siber Dunia dengan Teknologi AI Canggih
Peretas Mengancam Keamanan Siber Dunia dengan Teknologi AI Canggih

GemaWarta – 12 Agustus 2026 | Peretas telah menjadi ancaman serius bagi keamanan siber di seluruh dunia. Dengan kemampuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih, para peretas kini dapat mengeksploitasi celah keamanan dengan lebih mudah dan cepat. Menurut laporan CrowdStrike, peretas asal China dapat mengeksploitasi kerentanan sistem hanya dalam waktu 24 jam setelah proof-of-concept (PoC) diterbitkan.

Kelompok peretas yang terafiliasi dengan negara tertentu menunjukkan kecepatan luar biasa dalam memanfaatkan celah keamanan. Mereka tidak hanya menggunakan AI sebagai alat bantu operasional, tetapi juga sebagai target bernilai tinggi bagi berbagai kelompok kejahatan siber internasional. AI berfungsi sebagai alat, target, sekaligus pengganda efektivitas serangan siber.

🔖 Baca juga:
Nvidia dan Persaingan Chip AI: Masa Depan Teknologi

Salah satu contoh serangan siber yang berhasil adalah kasus peretasan Ticketmaster, di mana peretas asal Kanada, Connor Moucka, membobol sistem pusat data Ticketmaster dan perusahaan induknya, Live Nation. Peretas tersebut memanfaatkan data pelanggan dan informasi tiket konser sebagai alat untuk memeras perusahaan penyelenggara pertunjukan.

Untuk menghadapi ancaman siber yang semakin canggih, perusahaan seperti OpenAI telah mengembangkan model AI yang dirancang khusus untuk membantu para peneliti keamanan mendeteksi dan menambal kerentanan sebelum para peretas memanfaatkannya. Model GPT-5.6-Cyber dari OpenAI dapat menyelesaikan 95 persen permintaan keamanan siber tingkat lanjut dalam evaluasi internal.

🔖 Baca juga:
Review Game 007 First Light: Pengalaman Membunuh yang Lebih Baik

Microsoft juga telah mengungkap ancaman siber baru yang dinilai sangat berbahaya bagi organisasi dan perusahaan di berbagai sektor. Kelompok peretas bermotif finansial asal China, Storm-1175, kini menggunakan ransomware baru bernama StormEncryptor untuk menyerang sistem yang belum diperbarui.

WhatsApp telah merilis fitur keamanan baru bernama Strict Account Settings untuk memperketat keamanan akun secara maksimal. Fitur ini bekerja dengan membatasi komunikasi dari nomor asing dan memblokir berkas media secara otomatis. Dengan demikian, pengguna dapat lebih aman dari serangan siber zero-click exploits.

🔖 Baca juga:
iPhone 18 Pro Max: Rilis, Harga, dan Spesifikasi Terbaru

Kesimpulan, ancaman siber yang semakin canggih dan beragam memerlukan penanganan yang lebih serius dan efektif. Dengan kemampuan teknologi AI yang semakin canggih, peretas dapat mengeksploitasi celah keamanan dengan lebih mudah dan cepat. Oleh karena itu, perusahaan dan organisasi harus meningkatkan keamanan siber mereka dengan menggunakan teknologi canggih dan fitur keamanan yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *