GemaWarta – 26 April 2026 | Pertandingan laga ke-32 La Liga antara Real Betis dan Real Madrid berakhir dengan skor imbang 1-1 pada Senin (25/04/2026). Gol penyeimbang yang dicetak Hector Bellerín di menit tambahan membuat Madrid harus puas dengan satu poin, sementara Betis berhasil meraih nilai penting di kandang mereka, Estadio Benito Villamarín.
Sejak peluit pertama, kedua tim menampilkan intensitas tinggi. Real Madrid sempat unggul lebih dulu melalui gol yang belum dipublikasikan secara resmi, namun kepemimpinan mereka terancam ketika pertahanan Betis menahan serangan demi serangan. Menjelang akhir babak pertama, Betis menuntut penalti setelah Brahim Díaz diduga melakukan handball di dalam kotak penalti, namun keputusan tidak diberikan oleh wasit utama Soto Grado.
Kontroversi memuncak pada fase akhir laga. Pada menit ke-90+2, Bellerín menembus lini pertahanan Betis dan menempatkan bola ke belakang gawang, menyamakan kedudukan. Gol tersebut menimbulkan protes dari pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, yang menilai aksi sebelumnya—sebuah pelanggaran oleh Antony terhadap Mendy—seharusnya diancam kartu merah. Arbeloa menyebut keputusan tersebut “tidak konsisten” dan menuduh bantuan VAR yang dikelola oleh asistennya, González Fuertes, tidak efektif.
Sementara itu, pihak Betis juga tidak puas. Mereka menuntut kartu merah untuk Dean Huijsen setelah aksi kerasnya terhadap Antony, yang hanya diberi kartu kuning. Betis juga mengklaim Antony seharusnya diberikan penalti setelah diblokir oleh Ferland Mendy dalam area pertahanan Lunin. Kedua keluhan tersebut tidak diakui oleh komite wasit.
Berikut rangkuman utama kontroversi yang memicu protes kedua belah pihak:
- Soto Grado tidak memberikan penalti untuk handball Brahim Díaz.
- González Fuertes tidak menampilkan VAR yang memperlihatkan pelanggaran Antony terhadap Mendy.
- Arbeloa menuntut kartu merah untuk Antony, tetapi wasit hanya memberi peringatan.
- Betis mengajukan kartu merah untuk Dean Huijsen, namun wasit hanya memberi kuning.
Selain kontroversi teknis, hasil imbang ini memperburuk situasi Real Madrid di klasemen. Tim yang dipimpin Arbeloa kini berada di posisi ketiga dengan selisih tiga poin dari pemuncak Barcelona. Kelemahan konsentrasi pada menit-menit akhir kembali menonjol, mengingat Madrid telah kebobolan gol penentu pada empat dari enam pertandingan terakhir, termasuk melawan Deportivo Alavés, Bayern München, dan Mallorca.
Kondisi tersebut menambah tekanan pada manajemen klub. Laporan internal menyebut bahwa pemilik klub, Florentino Pérez, telah meninjau opsi pelatih lain untuk musim depan. Nama-nama seperti Massimiliano Allegri dan Jürgen Klopp disebut-sebut sebagai kandidat potensial, menandakan bahwa era transisi di bawah Arbeloa belum menunjukkan stabilitas yang diharapkan.
Di sisi lain, Real Betis memanfaatkan titik lemah lawan untuk meraih satu poin krusial. Pemain muda Natan, yang mendapat peringatan dari Soto Grado, serta aksi-aksi defensif tim yang disiplin, membantu mereka menahan serangan akhir Madrid. Poin ini menguatkan posisi Betis di zona tengah klasemen, menjauhkan mereka dari zona degradasi.
Reaksi media sosial pun memanas. Penggemar Real Madrid mengkritik keputusan wasit di platform Real Madrid TV, sementara suporter Betis menilai gol Bellerín sebagai “keberuntungan” namun tetap menekankan keadilan pertandingan. Kedua kubu menuntut transparansi lebih dari federasi sepakbola Spanyol terkait penggunaan VAR.
Kesimpulannya, laga Betis vs Madrid tidak hanya menghasilkan satu poin bagi masing-masing tim, tetapi juga menyoroti masalah teknis dan taktis yang masih menggelayuti kedua klub. Jika Real Madrid ingin kembali bersaing memperebutkan gelar La Liga, mereka harus mengatasi kebobolan di menit-menit akhir dan memperbaiki koordinasi dengan tim arbitrase. Sementara Betis, dengan memanfaatkan peluang dan menegaskan keberanian mereka, dapat melanjutkan perjuangan demi mengamankan posisi aman di tengah klasemen.











