GemaWarta – 27 April 2026 | Pertandingan Premier League antara West Ham United dan Everton pada Sabtu sore berakhir dengan kemenangan tipis 2-1 bagi The Hammers. Gol-gol yang menentukan datang dari serangan balasan cepat, sementara keputusan VAR pada menit ke-85 menambah ketegangan yang sudah memuncak.
West Ham membuka skor lebih dulu melalui serangan terorganisir, memanfaatkan kelemahan lini belakang Everton yang masih mencari keseimbangan. Everton berhasil menyamakan kedudukan lewat peluang tunggal di babak pertama, namun Nuno Espírito Santo menurunkan strategi defensif di akhir babak pertama yang membuat timnya menahan tekanan hingga menit-menit akhir.
Reaksi para pendukung West Ham pun beragam. Berikut kutipan komentar mereka yang dikumpulkan setelah laga:
- Gary: “Pertandingan sangat menegangkan, pertahanan kami solid tetapi masih terlalu banyak kehilangan bola. Terus berjuang!”
- Bubba: “Formasi catenaccio tidak cocok di Premier League modern. Pergeseran taktik di menit 80 hampir merusak usaha kami.”
- Tricky Tev: “Kami masih kesulitan mempertahankan keunggulan. Nuno harus lebih tegas dalam pergantian pemain.”
- John: “Pemain yang mendapatkan hasil, bukan Nuno. Dia terlalu negatif dan menurunkan tim terlalu dalam.”
Di sisi lain, suporter Everton menyuarakan kekecewaan mereka:
- Jameson: “Penampilan sangat frustrasi. McNeil harusnya diganti setelah kesalahan di pertandingan sebelumnya. Barry dan O’Brien tidak memberikan kontribusi berarti.”
- Mark: “VAR rusak, tidak ada penalti yang diberikan meski jelas terjadi handball di area penalti.”
Dari sudut taktik, keputusan Nuno untuk menurunkan lini pertahanan menjadi sorotan utama. Banyak yang berpendapat bahwa perubahan ke formasi lebih bertahan pada menit ke-80 mengurangi intensitas serangan dan memberi ruang bagi West Ham untuk mengontrol permainan. Kritik ini diperkuat oleh fakta bahwa Everton gagal menciptakan peluang jelas di babak kedua, meski memiliki beberapa pemain kreatif di lini tengah.
Kontroversi penalti pada menit ke-85 menambah keruhnya suasana. Mateus Fernandes tampak menumpuk bola dengan tangan di dalam kotak penalti, namun setelah tinjauan VAR, wasit tetap menganggapnya sebagai kontak tidak disengaja dan tidak memberikan tendangan penalti. Eks kepala PGMOL, Keith Hackett, menilai bahwa Everton seharusnya mengajukan keluhan resmi ke Premier League CEO Richard Masters melalui Angus Kinnear, yang dilaporkan telah menghubungi PGMOL pada 26 April untuk menyoroti inkonsistensi keputusan wasit.
Masalah lain yang menjorok ke dalam performa Everton adalah kegagalan dalam kebijakan transfer striker pada musim panas lalu. Hanya menambah Thierno Barry, sementara Dominic Calvert‑Lewin, Neal Maupay, dan Youssef Chermiti meninggalkan klub, membuat lini serang Toffees terlihat rapuh. Kritik tajam muncul dari media, menilai bahwa Friedkin Group mengabaikan kebutuhan mendesak di posisi penyerang, yang berujung pada kekurangan peluang gol yang nyata dalam pertandingan melawan West Ham.
Implikasi hasil ini cukup signifikan bagi kedua tim. West Ham, yang kini berada di zona aman menengah klasemen, harus mengatasi kebocoran bola di lini tengah agar dapat bersaing di papan atas. Sementara Everton, yang masih berjuang menembus zona Eropa, harus segera memperkuat lini depan dan menuntut kejelasan atas keputusan arbitrase agar tidak kehilangan poin penting di sisa musim.
Secara keseluruhan, West Ham vs Everton bukan sekadar laga biasa; ia menampilkan kombinasi drama di lapangan, ketegangan di luar lapangan, serta tantangan struktural yang harus dihadapi masing‑masing klub untuk melanjutkan perjuangan mereka di Premier League.









