GemaWarta – 20 April 2026 | Liam Delap, penyerang muda berusia 23 tahun yang ditandatangani Chelsea dengan nilai transfer £30 juta pada musim panas 2024, kini berada dalam situasi yang jauh dari harapan. Setelah menembus 20 penampilan berturut‑turut tanpa mencetak satu gol di Liga Premier, striker asal Inggris tersebut menjadi sorotan utama media dan pendukung Blues.
Delap memasuki Chelsea dari Ipswich Town, klub asalnya yang kala itu berjuang di zona degradasi. Pada musim 2024‑25 ia mencetak 12 gol dalam 37 pertandingan Premier League, menjadi salah satu pencetak gol terbanyak untuk tim yang terancam relegasi. Kepercayaan dirinya terbentuk dari kebiasaan menjadi starter reguler, dengan 32 kali masuk dalam XI pertama.
Namun, di Stamford Bridge, pola bermainnya berubah drastis. Dari 24 penampilan liga yang telah ia lakukan untuk Chelsea, hanya 10 kali ia berada di XI pertama. Rata‑rata menit bermain per pertandingan menurun, dan ia belum mampu menemukan ritme yang konsisten. Cedera hamstring pada Agustus melumpuhkan Delap selama dua bulan, dan kembalinya ia dalam pertandingan melawan Wolverhampton Wanderers di Piala Carabao berujung pada kartu merah setelah dua peringatan dalam 25 menit.
Catatan gol Delap di kompetisi utama Chelsea kini hanya satu: gol tunggal dalam kemenangan 3‑0 melawan Barcelona di Liga Champions pada November 2025. Satu lagi gol tercatat di ajang Club World Cup melawan El Tunis, namun di Premier League ia hanya mencatat satu gol melawan Fulham pada Desember 2025. Pada laga terakhir melawan Manchester United, Delap hampir membuka skor ketika tembakannya yang diassist oleh Cole Palmer ditolak karena offside, lalu headernya mengenai mistar bawah dan memantul kembali ke luar gawang.
Menurut beberapa sumber anonim yang diwawancarai The Athletic, kesulitan utama Delap terletak pada kurangnya kesempatan bermain secara reguler. Tanpa kepercayaan diri untuk tampil penuh 90 menit, ia sulit membangun chemistry dengan rekan satu lini, terutama dengan striker utama Joao Pedro yang baru kembali dari cedera. Ketika Pedro tidak tersedia, Delap diberikan peran utama melawan United, namun lawan yang dihadapi berada dalam situasi pertahanan yang tidak ideal, sehingga peluangnya tetap terbatas.
Delap sendiri menyuarakan kekecewaannya setelah kekalahan 1‑0 Chelsea atas Manchester United. Dalam konferensi pers, ia menegaskan bahwa tim “lebih baik” namun gagal mengeksekusi penyelesaian akhir. “Kami menciptakan banyak peluang, tiga kali menabrak tiang, dan saya bahkan hampir mencetak dengan sundulan yang menghantam mistar. Hanya saja finishing kami masih perlu perbaikan kecil,” ujarnya.
Pelatih Liam Rosenior menanggapi situasi ini dengan optimisme. Ia menekankan pentingnya memperbaiki detail teknis dalam penyelesaian, serta menjaga semangat kebersamaan dalam skuad. Chelsea saat ini berada di posisi keenam klasemen, tujuh poin dari zona kualifikasi Liga Champions, dan masih memiliki pertandingan penting melawan Brighton serta semifinal Piala FA melawan Leeds United.
Berikut ringkasan statistik Delap di musim ini:
- Penampilan Premier League: 24 (10 sebagai starter)
- Menit bermain rata‑rata: 54 menit per pertandingan
- Gol di Liga Premier: 1 (melawan Fulham)
- Gol di kompetisi lain: 1 (Barcelona, Liga Champions)
- Kartu kuning: 3, Kartu merah: 1
Analisis para pengamat menilai bahwa untuk mematahkan kebuntuan, Delap membutuhkan waktu lebih banyak di lapangan, kepercayaan dari pelatih, dan penyelesaian yang lebih tajam. Jika Chelsea dapat memberikan Delap peran yang lebih konsisten, khususnya dalam formasi yang memaksimalkan gerakannya di kotak penalti, striker tersebut berpotensi kembali menjadi ancaman utama di lini serang.
Harapan tidak hanya datang dari Delap sendiri, melainkan juga dari rekan-rekannya. Joao Pedro, yang dijadwalkan kembali fit, diharapkan dapat berkolaborasi dengan Delap, menciptakan kombinasi dua‑penyerang yang dinamis. Di samping itu, dukungan dari gelandang kreatif seperti Cole Palmer dan Mason Mount akan sangat menentukan untuk menyediakan layanan akhir yang akurat.
Kesimpulannya, Liam Delap berada pada titik kritis dalam kariernya di Chelsea. Kebuntuan gol selama 20 pertandingan menimbulkan pertanyaan tentang adaptasi dan manajemen waktu bermain. Namun, dengan semangat tim yang tetap tinggi, dukungan pelatih, dan potensi kualitas individu yang sudah terbukti di Ipswich, peluang untuk memulihkan kepercayaan diri dan produktivitasnya tetap terbuka lebar.











