GemaWarta – 28 April 2026 | Sri Mulyani, seorang ibu tunggal berusia 38 tahun, menjalani hari‑hari yang penuh tantangan di pinggir rel kereta api di kawasan timur Jakarta. Dengan penghasilan harian hanya Rp50.000, ia harus mengatur kebutuhan tiga anaknya—Rizki (12 tahun), Siti (9 tahun), dan Dito (4 tahun)—dalam kondisi yang serba tidak menentu. Meski berada di lingkungan yang berisiko tinggi, termasuk gema kecelakaan kereta yang baru saja terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Sri tidak menyerah. Kesigapan dan keberaniannya dalam melindungi keluarga menjadi contoh nyata ketabahan rakyat kecil.
Setiap pagi, Sri menyiapkan sarapan sederhana berupa nasi uduk dengan sambal terasi, yang cukup untuk mengenyangkan anak‑anaknya selama beberapa jam. Setelah menyiapkan bekal, ia berjalan menuruni tangga beton yang menghubungkan rumahnya dengan jalur kereta. Jalan setapak yang berdebu sering dipenuhi debu‑debu hitam hasil pengereman kereta, menambah rasa tidak nyaman namun tetap menjadi satu‑satunya jalur akses bagi warga sekitar.
Penghasilan Rp50.000 berasal dari pekerjaan sambilan sebagai penjual makanan ringan di gerobak yang terletak di dekat stasiun. Sri menjual kerupuk, kue lumpur, dan minuman teh hangat kepada penumpang yang menunggu kereta. Pendapatan yang didapat sangat fluktuatif, tergantung pada cuaca dan kepadatan penumpang. Pada hari hujan, penjualan menurun drastis, sehingga ia harus menghemat pengeluaran secara ketat.
- Biaya transportasi harian: Rp5.000 (tiket KRL untuk tiga anak)
- Pakan sekolah: Rp10.000 per anak per bulan
- Kebutuhan rumah tangga (sabun, deterjen, listrik): Rp15.000
- Tabungan darurat: Rp5.000
Dengan rincian di atas, total pengeluaran bulanan mencapai hampir seluruh pendapatan yang didapat, meninggalkan sedikit ruang untuk tabungan. Namun, Sri tetap berusaha menyisihkan sejumlah kecil uang untuk dana darurat, mengingat risiko kecelakaan kereta yang baru saja terjadi di Bekasi Timur. Kecelakaan tersebut menewaskan seorang wanita berusia 63 tahun, Nuryati, dan melukai banyak penumpang. Kejadian itu mengingatkan Sri akan pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bahaya di sekitar rel.
Selain menyiapkan kebutuhan fisik, Sri juga memperhatikan pendidikan dan kesehatan anak‑anaknya. Rizki, yang kini masuk kelas VII, mendapat beasiswa parsial untuk mengikuti les privat matematika. Siti bersekolah di SDN 02, sementara Dito masih berada di taman kanak‑kanak. Semua biaya sekolah ditanggung dari penghasilan harian yang terbatas, sehingga Sri harus mengatur jadwal kerja dengan cermat agar tidak mengganggu proses belajar.
Komunitas di sekitar rel juga memainkan peran penting dalam kehidupan Sri. Tetangga‑tetangga sering berbagi informasi tentang jadwal kereta, memperingatkan bahaya ketika lampu gerbong padam, dan membantu mengawasi anak‑anak ketika Sri sedang berjualan. Solidaritas ini menjadi jaringan pengaman tak resmi yang membantu mengurangi rasa terisolasi.
Dalam menghadapi tekanan ekonomi, Sri mengembangkan strategi kreatif. Ia memanfaatkan limbah makanan untuk membuat kerupuk yang lebih renyah, meningkatkan margin keuntungan. Selain itu, ia menjual jasa menyiapkan katering kecil untuk acara keluarga tetangga, menambah sumber pendapatan tambahan sebesar Rp10.000‑15.000 per minggu.
Kisah Sri Mulyani menjadi bukti bahwa ketahanan hidup tidak hanya bergantung pada besarnya pendapatan, melainkan pada kemampuan mengelola sumber daya yang ada, dukungan sosial, dan tekad kuat untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya. Meskipun hidup di bantaran rel selalu diwarnai risiko, Sri terus melangkah maju, menatap harapan bahwa suatu hari nanti ia dapat mengangkat keluarganya dari keterbatasan.
Kesimpulannya, perjuangan Sri Mulyani menunjukkan betapa besar nilai kerja keras, kebersamaan, dan kreativitas dalam menghadapi keterbatasan ekonomi. Dengan Rp50.000 sehari, ia berhasil memastikan tiga anaknya tetap bersekolah, terjaga kesehatannya, dan tetap memiliki rasa aman meski berada di lingkungan yang rawan kecelakaan kereta. Cerita ini menjadi inspirasi bagi banyak orang yang berada dalam situasi serupa, mengajarkan bahwa harapan tetap dapat tumbuh di tengah tantangan.











