Politik

Kim Jong-un Puji Tentara Korut yang Mengorbankan Nyawa di Ukraina dalam Upacara Monumen Mengharukan

×

Kim Jong-un Puji Tentara Korut yang Mengorbankan Nyawa di Ukraina dalam Upacara Monumen Mengharukan

Share this article
Kim Jong-un Puji Tentara Korut yang Mengorbankan Nyawa di Ukraina dalam Upacara Monumen Mengharukan
Kim Jong-un Puji Tentara Korut yang Mengorbankan Nyawa di Ukraina dalam Upacara Monumen Mengharukan

GemaWarta – 29 April 2026 | Foto yang beredar menampilkan Kim Jong-un berdiri di depan monumen baru di Pyongyang, memperingati tentara Korea Utara yang gugur dalam konflik Rusia-Ukraina. Upacara yang dihadiri pejabat tinggi Rusia dan delegasi internasional ini menegaskan komitmen Pyongyang terhadap aliansi militer dengan Moskow.

Sejak akhir 2024, Korea Utara telah mengirimkan sekitar 14.000 hingga 15.000 prajurit ke wilayah Kursk, Rusia, untuk mendukung operasi militer melawan pasukan Ukraina. Menurut intelijen Korea Selatan dan laporan Barat, lebih dari 6.000 tentara Korut dilaporkan tewas, sementara ribuan lainnya terluka. Angka pasti belum diungkap secara resmi oleh Pyongyang maupun Moskow.

🔖 Baca juga:
Demo Besar di Samarinda: Massa Tuntut Rudy Mas’ud Mundur dan Evaluasi Anggaran Miliaran

Dalam pidatonya, Kim Jong-un menekankan bahwa prajurit‑prajurit tersebut memilih “jalan penghancuran diri” demi mempertahankan kehormatan negara. Ia menggambarkan aksi bunuh diri sebagai bentuk keberanian yang tak tergoyahkan, menyebut para prajurit itu sebagai pahlawan dan patriot sejati yang menolak penangkapan oleh musuh.

Para pejabat Rusia, termasuk Menteri Pertahanan Andrei Belousov, menyatakan rasa hormat mendalam terhadap kontribusi tentara Korut. Mereka menegaskan bahwa monumen tersebut merupakan simbol persahabatan strategis antara kedua negara, sekaligus memperkuat kerja sama militer yang direncanakan hingga 2031.

Intelijen Korea Selatan menilai kebijakan bunuh diri yang dikeluarkan oleh Kim Jong-un sebagai upaya keras untuk menghindari tawanan perang yang dapat dimanfaatkan Ukraina atau sekutu Barat. Kebijakan ini, menurut para analis, memperparah risiko kemanusiaan dan menambah beban psikologis pada pasukan yang terlibat di garis depan.

Keberadaan pasukan Korut di Ukraina pertama kali dibantah oleh kedua belah pihak, namun pengakuan resmi muncul pada April 2025. Sejak saat itu, Pyongyang tidak hanya menyediakan personel, melainkan juga perlengkapan senjata konvensional, amunisi, dan dukungan teknis bagi operasi militer Rusia.

🔖 Baca juga:
Mau Tahu Menteri Mana yang Disorot Prabowo? Ini Fakta di Balik Isu Reshuffle Kabinet

Monumen yang dirayakan pada 26 April menampilkan patung-patung baja yang melambangkan keberanian dan pengorbanan. Di sekelilingnya terdapat museum kecil yang menampilkan foto-foto prajurit, surat-surat perintah, serta artefak perang yang diidentifikasi sebagai bukti keterlibatan Korea Utara di Kursk.

Sebagai imbalan atas kontribusi militer, Pyongyang dilaporkan menerima bantuan ekonomi dan teknologi militer dari Rusia, termasuk perjanjian pasokan energi dan pelatihan teknis. Namun rincian detail belum dipublikasikan secara terbuka, menimbulkan spekulasi tentang besaran bantuan tersebut.

Penguatan aliansi militer antara Pyongyang dan Moskow memiliki implikasi geopolitik yang luas. Kedua negara menekankan pentingnya kerja sama dalam menghadapi “ancaman hegemonik” dan memperkuat posisi mereka di panggung internasional, terutama dalam konteks sanksi Barat terhadap Rusia.

Komunitas internasional, terutama organisasi hak asasi manusia, mengkritik keras kebijakan bunuh diri yang dipaksakan kepada tentara. Mereka menilai tindakan tersebut melanggar Konvensi Jenewa dan menambah beban penderitaan pada keluarga korban yang kini harus menanggung kehilangan tanpa kejelasan penyebab resmi.

🔖 Baca juga:
Komisi Percepatan Reformasi Polri Selesai, Namun Presiden Prabowo Masih Belum Temui – Apa Selanjutnya?

Ke depan, analis memperkirakan Korea Utara dapat terus meningkatkan kontribusi militer ke wilayah konflik, terutama bila Rusia memperpanjang operasi di Ukraina. Sementara itu, tekanan ekonomi global dan sanksi dapat memaksa Pyongyang untuk menyesuaikan strategi diplomatiknya.

Monumen di Pyongyang tidak hanya menjadi tempat peringatan, tetapi juga simbol nyata dari hubungan militer yang semakin erat antara Korea Utara dan Rusia. Upacara tersebut menegaskan bahwa Kim Jong-un melihat keberanian para prajuritnya sebagai pilar utama dalam memperkuat posisi negara di arena global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *