Internasional

Serangan udara Israel di Lebanon Selatan Tebaskan 41 Jiwa, Korban Tembus 2.600 Orang

×

Serangan udara Israel di Lebanon Selatan Tebaskan 41 Jiwa, Korban Tembus 2.600 Orang

Share this article
Serangan udara Israel di Lebanon Selatan Tebaskan 41 Jiwa, Korban Tembus 2.600 Orang
Serangan udara Israel di Lebanon Selatan Tebaskan 41 Jiwa, Korban Tembus 2.600 Orang

GemaWarta – 04 Mei 2026 | Serangan udara Israel di Lebanon selatan terus memuncak dalam 24 jam terakhir, menewaskan setidaknya 41 orang, sebagian besar warga sipil, dan menambah total korban tewas menjadi 2.659 jiwa sejak awal konflik pada 2 Maret. Insiden ini memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah yang sudah lama terdampak gencatan senjata yang rapuh.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa 8.183 orang juga mengalami luka-luka akibat serangan yang meluas ke kota-kota dan desa di wilayah selatan, termasuk Shoukine, Kfar Dajjal, Lwaizeh, Nabatieh, Siddiqine, serta sejumlah lokasi lainnya. Tiga korban tewas di Shoukine, dua di Kfar Dajjal, dan tiga lainnya di Lwaizeh, sementara ledakan tambahan dilaporkan di daerah Nabatieh dan sekitarnya.

🔖 Baca juga:
Duka Nasional: 2 Tentara Prancis Gugur di Lebanon, Macron Tuding Hizbullah

Israel menegaskan operasi militer ini ditujukan untuk menghancurkan jaringan bersenjata Hizbullah yang didukung Iran. Namun, otoritas Lebanon menegaskan bahwa mayoritas korban tewas merupakan warga sipil yang tidak terlibat dalam pertempuran. Peningkatan intensitas serangan ini terjadi meski terdapat perjanjian gencatan senjata 10 hari yang diumumkan pada 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei.

Selain serangan udara, militer Israel pada hari Ahad mengeluarkan peringatan evakuasi, meminta penduduk meninggalkan setidaknya 1.000 meter dari 12 kota dan desa di selatan Lebanon, antara lain al-Duwayr, Arab Salim, al-Sharqiya (Nabatieh), Jibshit, Braashit, Sarafand, Dounin, Briqa, Qaaqaiya al-Jisr, al-Qasiba (Nabatieh), dan Kfar Sir. Perintah ini menambah tekanan pada lebih dari satu juta warga Lebanon yang telah mengungsi sejak konflik mulai memuncak pada awal Maret.

Data kemanusiaan menunjukkan bahwa sejak serangan dimulai, lebih dari satu juta orang Lebanon mengungsi, mencari perlindungan di kamp pengungsian atau kembali ke rumah mereka yang masih berada dalam zona konflik. Meskipun sebagian besar pengungsi mulai kembali, situasi masih tegang dengan laporan pelanggaran gencatan senjata secara berkala.

🔖 Baca juga:
Turki Dihantam Ancaman Israel: Menlu Fidan Ungkap Risiko Perang Selanjutnya

Komunitas internasional, termasuk China melalui utusannya di PBB, menilai tidak ada gencatan senjata yang nyata di Lebanon, melainkan hanya pengurangan intensitas tembakan. Beijing mendesak Israel segera menghentikan pemboman untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Berikut rangkuman data terkini terkait dampak serangan:

  • Total korban tewas sejak 2 Maret: 2.659 jiwa
  • Total korban luka: 8.183 orang
  • Jumlah pengungsi internal: lebih dari 1.000.000 orang
  • Kota dan desa yang diperintahkan untuk dievakuasi: 12 lokasi utama di selatan Lebanon

Para analis menilai bahwa pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata dapat memicu gelombang pengungsian baru, terutama bila serangan terus menargetkan area permukiman sipil. Situasi ini menempatkan tekanan besar pada lembaga bantuan kemanusiaan yang berusaha menyediakan bantuan medis, makanan, dan tempat penampungan bagi ribuan keluarga yang terdampak.

🔖 Baca juga:
Kapal Pengungsi Rohingya Terbalik di Laut Andaman, 250 Penumpang Hilang dalam Tragedi Laut

Secara politik, konflik ini menambah ketegangan antara Israel dan Hizbullah, memperparah hubungan regional yang sudah tegang. Pihak-pihak terkait terus berusaha mencari jalur diplomatik, namun hingga kini belum ada indikasi nyata bahwa gencatan senjata dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Dengan meningkatnya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, komunitas internasional diharapkan meningkatkan tekanan diplomatik serta menyediakan bantuan kemanusiaan yang lebih luas untuk menstabilkan situasi di Lebanon selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *