GemaWarta – 03 Mei 2026 | Israel dan Lebanon menandatangani gencatan senjata pada 16 April 2026 setelah mediasi intensif Amerika Serikat. Kesepakatan awalnya hanya berlaku selama sepuluh hari, namun pada akhir April delegasi kedua negara bertemu di Washington DC dan memperpanjangnya selama tiga pekan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan lewat media sosialnya bahwa Hizbullah harus mematuhi perjanjian tersebut.
Sementara perjanjian tersebut memberi harapan bagi warga Lebanon, Kepala Staf Pasukan Militer Israel (IDF), Eyal Zamir, menyatakan bahwa wilayah Lebanon selatan tidak termasuk dalam gencatan senjata. Zamir mengunjungi daerah perbatasan pada 29 April 2026 dan menegaskan, “Kami tidak akan mentolerir serangan Hizbullah dan tetap berada di garis pertahanan untuk melindungi komunitas kami di utara.” Pernyataan itu menegaskan bahwa, meski ada perjanjian formal, operasi militer Israel di selatan Lebanon terus berlanjut.
Menurut laporan IDF, serangan militer Israel di Lebanon sejak awal Maret telah menewaskan 2.509 orang dan melukai 7.755 lainnya. Sebagian besar korban adalah warga sipil, meski sebagian besar juga melibatkan anggota milisi Hizbullah yang terus melancarkan tembakan ke pos-pos IDF. Pada hari Rabu, 29 April, terjadi bentrokan sengit di wilayah perbatasan yang menewaskan 12 orang, termasuk lima anggota Hizbullah dan tujuh warga sipil. Israel menanggapi dengan serangan udara dan artileri yang menargetkan pos-pos militer dan instalasi logistik musuh.
Di sisi lain, perpanjangan gencatan senjata mendapatkan sambutan hangat di ibu kota Beirut. Ratusan ribu warga turun ke jalan, mengibarkan bendera Lebanon dan menuntut akhir konflik. Meskipun perayaan tersebut mencerminkan kelegaan sementara, ketegangan di selatan tetap tinggi. Para pemimpin politik Lebanon menegaskan perlunya penegakan perjanjian secara menyeluruh, termasuk penarikan pasukan Israel dari wilayah yang dipertikaikan.
Poin penting yang muncul dari pernyataan Zamir antara lain:
- Gencatan senjata tidak mencakup Lebanon selatan karena keberadaan milisi Hizbullah yang masih aktif.
- IDF akan tetap menahan posisi di garis pertahanan untuk mencegah tembakan ke permukiman Israel.
- Israel berkomitmen membalas setiap serangan Hizbullah secara proporsional.
Sementara itu, Amerika Serikat berupaya menyeimbangkan dukungannya kepada Israel dengan tekanan kepada Hizbullah untuk menghentikan agresi. Donald Trump menuliskan di platform media sosialnya, “Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama tiga minggu. Hizbullah harus mematuhi perjanjian ini, dan kami akan melindungi Lebanon dari ancaman yang mengganggu stabilitas regional.” Pernyataan tersebut menegaskan peran mediasi AS yang masih kuat meski situasi di lapangan tetap rapuh.
Analisis para ahli keamanan menilai bahwa perpanjangan gencatan senjata bersifat sementara dan dapat runtuh jika serangan balik dari pihak manapun meningkat. Mereka mencatat bahwa keberlanjutan konflik tergantung pada kemampuan kedua belah pihak untuk menahan tekanan domestik dan internasional. Di satu sisi, Israel berusaha meminimalisir ancaman roket dari Hizbullah, sementara di sisi lain, Lebanon menuntut penghentian total serangan udara yang dianggap melanggar kedaulatan negara.
Secara keseluruhan, situasi di perbatasan Israel-Lebanon masih sangat dinamis. Gencatan senjata Lebanon memberikan ruang napas bagi warga sipil, namun tidak menghentikan operasi militer Israel di selatan. Kedua belah pihak tampaknya berada pada titik impas, menunggu langkah selanjutnya dari mediasi internasional dan tekanan politik domestik. Keputusan selanjutnya akan sangat menentukan apakah ketegangan dapat mereda atau justru memicu gelombang baru konflik di kawasan Timur Tengah.











