GemaWarta – 08 Mei 2026 | Harga keekonomian Pertalite telah menembus Rp 15.000 per liter, membuat masyarakat bertanya-tanya tentang beban subsidi energi yang semakin besar. Menurut pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, harga Pertalite (RON 90), Pertamax (RON 92), dan Pertamax Green (RON 95) secara keekonomian sebenarnya tidak terlalu beda jauh.
Namun, di Indonesia, terdapat anomali di mana harga asli atau nilai keekonomian Pertalite disebut mencapai Rp 16.088, sementara Pertamax justru bisa dibanderol Rp 12.300. Hal ini dikarenakan strategi pemasaran yang dilakukan oleh Pertamina untuk mendorong masyarakat menggunakan BBM non-subsidi yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan.
Menurut Yuswidjajanto, selisih harga yang kompetitif tersebut dapat memicu kesadaran pemilik kendaraan untuk beralih ke BBM yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan. Dengan demikian, anggaran subsidi BBM bisa berkurang dan bisa dimanfaatkan untuk sektor lain yang lebih bermanfaat.
Pertamina juga menjelaskan bahwa harga Pertamax ditahan pemerintah demi stabilitas, meski secara keekonomian seharusnya lebih mahal dibandingkan Pertalite tanpa subsidi. Pemerintah fokus memberikan subsidi pada Pertalite untuk menjaga daya beli masyarakat dan memastikan roda perekonomian nasional tetap berjalan stabil.
Subsidi seharusnya melekat pada orang, bukan pada barang, sehingga BBM subsidi tidak bisa dibeli oleh orang yang mampu. Sayangnya, kesadaran itu belum tumbuh di masyarakat kita, sehingga kebocoran subsidi masih sangat besar.
Kenaikan harga BBM juga telah terjadi pada beberapa jenis, seperti Pertamax, Pertamax Green 95 (RON 95), Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite, dan Pertamina DEX. Sementara harga Pertalite tetap tidak mengalami perubahan.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah telah menyalurkan BBM subsidi sebanyak 39,7 juta kiloliter (KL) hingga Oktober 2024. Angka ini diprediksi bertambah hingga tutup tahun nanti.
Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa harga keekonomian Pertalite yang tembus Rp 15.000 per liter merupakan salah satu dampak dari beban subsidi energi yang besar. Pemerintah dan Pertamina harus terus berupaya untuk mengoptimalkan penggunaan subsidi dan mendorong masyarakat menggunakan BBM yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan.











