Internasional

AS Kawal Kapal Komersial Keluar dari Hormuz, Operasi Tak Mungkin, Ini Analisis Eks Petinggi Inggris

×

AS Kawal Kapal Komersial Keluar dari Hormuz, Operasi Tak Mungkin, Ini Analisis Eks Petinggi Inggris

Share this article
AS Kawal Kapal Komersial Keluar dari Hormuz, Operasi Tak Mungkin, Ini Analisis Eks Petinggi Inggris
AS Kawal Kapal Komersial Keluar dari Hormuz, Operasi Tak Mungkin, Ini Analisis Eks Petinggi Inggris

GemaWarta – 10 Mei 2026 | Inggris mengerahkan kapal tempur HMS Dragon ke Timur Tengah sebagai persiapan akan kemungkinan digelarnya misi internasional untuk melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz. Kapal penghancur Tipe 45 tersebut akan bersiaga di kawasan tersebut untuk ikut serta dalam inisiatif maritim Inggris-Prancis jika kondisi memungkinkan.

Rencana misi yang didukung Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron tersebut, bertujuan menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. "Kami dapat memastikan bahwa HMS Dragon akan dikerahkan ke Timur Tengah untuk bersiaga menjelang kemungkinan pelaksanaan misi multinasional dalam rangka melindungi pelayaran internasional, saat kondisi memungkinkan untuk melintas di Selat Hormuz," kata juru bicara Kemenhan Inggris.

🔖 Baca juga:
Operasi Senyap Rusia: Serangan Tanpa Tembakan yang Mengubah Peta Pertempuran di Ukraina

Ketegangan meningkat di kawasan itu setelah Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, melancarkan serangan ke Iran. Iran pun kemudian melancarkan serangan balasan terhadap Israel serta sekutu AS di Teluk Persia. Perang tersebut mengakibatkan gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Pada 8 April 2026, gencatan senjata disepakati dengan mediasi Pakistan, tetapi tahap pertama perundingan damai di Islamabad pada 11 April gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Presiden AS, Donald Trump, kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu yang ditentukan, sehingga memberi waktu bagi semua pihak agar mengupayakan solusi konflik secara permanen melalui diplomasi.

Namun sejak 13 April, AS telah memblokade lalu lintas maritim Iran di jalur perairan strategis itu. Pada Selasa, 5 Mei 2026, Trump mengumumkan bahwa militer AS akan menunda untuk sementara pelaksanaan "Project Freedom", untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Penempatan awal HMS Dragon adalah bagian dari perencanaan bijaksana yang akan memastikan Inggris siap, sebagai bagian dari koalisi multinasional yang dipimpin bersama oleh Inggris dan Perancis, untuk mengamankan selat tersebut, ketika kondisi memungkinkan.

🔖 Baca juga:
Kapal Tanker China Tembus Blokade AS di Selat Hormuz: Implikasi Geopolitik dan Pasokan Energi Global

Rencana militer untuk mengamankan Selat Hormuz sejatinya telah disusun sejak bulan lalu oleh London dan Paris. Misi ini mereka yakini bakal sukses memulihkan kembali arus perdagangan yang sempat terganggu.

Sebelumnya pada April lalu, lebih dari 44 negara bertemu di London untuk membahas aspek praktis dari misi perlindungan navigasi tersebut. Sejauh ini, sekitar 40 negara sepakat untuk berpartisipasi dalam misi yang dipimpin oleh Inggris dan Perancis.

Kondisi di Selat Hormuz kian kritis sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026. Sebelum perang, wilayah ini dilalui pengiriman sekitar seperlima minyak dunia. Namun, volume tersebut merosot tajam dalam beberapa bulan terakhir setelah Iran menutup sebagian besar akses selat.

Tindakan Teheran memicu kekacauan pasar global dan lonjakan harga minyak, yang kemudian dibalas AS dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ketegangan terbaru dilaporkan terjadi pada Jumat (8/5/2026), ketika jet tempur AS menembaki dan melumpuhkan dua kapal tanker berbendera Iran.

🔖 Baca juga:
Indonesia dan AS Tandatangani Kemitraan Pertahanan Besar di Tengah Ketegangan Iran

Insiden tersebut merupakan puncak dari eskalasi yang terjadi sejak Kamis (7/5/2026) malam, ketika Iran berupaya memungut biaya dari kapal-kapal asing sebagai bentuk pengaruh ekonomi terhadap AS dan sekutunya.

Kesimpulan, situasi di Selat Hormuz masih sangat tidak stabil dan membutuhkan perhatian dari komunitas internasional untuk menghindari eskalasi konflik yang lebih lanjut. Upaya Inggris dan Prancis untuk mengamankan pelayaran komersial di selat tersebut merupakan langkah positif, namun masih banyak tantangan yang harus diatasi untuk mencapai keamanan dan kestabilan di kawasan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *