GemaWarta – 13 April 2026 | Konten kreator Steven Wongso kembali menjadi sorotan publik setelah serangkaian pernyataan provokatif yang dinilai menyinggung kelompok tertentu. Pada 8 April 2026, Wongso mengunggah video di Instagram yang menyamakan orang berisi tubuh dengan anjing, sekaligus menambahkan bahwa “orang gendut lebih rendah daripada anjing”. Ungkapan tersebut segera memicu gelombang kemarahan di kalangan netizen dan sejumlah tokoh publik.
Ery Makmur, influencer yang dikenal aktif mengkritisi konten berbau kebencian, langsung menanggapi dengan pertanyaan tajam: “Emang bedanya kalian sama anjing apa? Makanan di depan kalian semua dihabisin kok”. Ia kemudian mengajak Steven untuk bertemu secara pribadi, namun permintaan tersebut tidak direspons. Sebagai gantinya, Ery menuliskan komentar panjang di Instagram, menuduh Steven tidak memiliki nurani dan menilai strategi “mencari viewers” sebagai motivasi utama.
Reaksi Ery tidak berdiri sendiri. Beberapa figur publik lain, termasuk dokter spesialis jantung Adam Prabata, menyoroti sisi lain dari kontroversi Steven. Dalam sebuah unggahan di X, Dr. Adam mengingatkan tentang penggunaan steroid anabolik yang pernah diakui oleh Steven dalam video sebelumnya. Ia menambahkan data dari jurnal “Circulation” 2025 yang menunjukkan peningkatan risiko serangan jantung hingga 300 persen dan gangguan irama jantung hingga 226 persen pada pengguna steroid. Sindiran ini menambah tekanan publik terhadap Steven, yang kini dinilai tidak hanya menyinggung moralitas tetapi juga kesehatan.
Tak lama setelah insiden tersebut, Steven kembali muncul dengan video lain yang menampilkan anjing yang sudah kenyang namun tetap memakan makanan yang disodorkan kepadanya. Ia berusaha membela diri dengan mengklaim dirinya sedang berada dalam program diet karena “sedang gendut”. Namun Ery kembali menegaskan bahwa pembelaan tersebut hanyalah taktik “memotivasi orang‑orang gendut untuk berubah” yang tidak berdasar.
Sementara itu, pada awal April 2026, Steven juga melontarkan kritik tajam terhadap penjual martabak manis. Ia menuduh para penjual “banyak dosa” dan menyamakan mereka dengan pengedar narkoba karena tingginya kadar gula dalam adonan. Pernyataan ini memicu hujatan luas, terutama karena dianggap menjelek‑jelekkan usaha mikro yang menjadi mata pencaharian banyak orang.
Berbagai komentar publik menyoroti pola komunikasi Steven yang cenderung provokatif. Beberapa netizen menilai ia menggunakan “clickbait” dan “sensasi” untuk meningkatkan jumlah penonton, sementara yang lain mengkhawatirkan dampak psikologis dari ujaran yang menjelek‑jelekkan tubuh. Di media sosial, hashtag #StevenWongsoTrending dan #JanganSukaSiksa terus beredar, menandakan besarnya perhatian publik.
Berikut rangkuman reaksi utama yang muncul secara daring:
- Ery Makmur: Menuduh Steven tak beretika, mengajak pertemuan namun tak direspons.
- Dr. Adam Prabata: Mengingatkan bahaya steroid, menyinggung kontradiksi antara kritik gula dan penggunaan steroid.
- Pengguna Instagram: Membagikan meme dan komentar sinis, menilai Steven “cari view” dengan cara menyinggung kelompok marginal.
- Penjual martabak: Menyatakan keberatan atas pernyataan yang menodai reputasi mereka.
Kontroversi ini juga menimbulkan perdebatan tentang batas kebebasan berekspresi di platform digital. Di satu sisi, kreator konten berhak menyampaikan pendapat, namun di sisi lain, ujaran yang mengandung diskriminasi atau fitnah dapat menimbulkan dampak sosial yang signifikan. Pengamat media sosial menekankan pentingnya regulasi yang menyeimbangkan hak kebebasan berpendapat dengan perlindungan terhadap kelompok rentan.
Sejumlah pihak menunggu klarifikasi resmi dari Steven Wongso. Hingga kini, belum ada pernyataan publik yang menjawab secara komprehensif semua tuduhan. Namun, tren komentar negatif dan tekanan publik terus meningkat, memaksa platform Instagram untuk meninjau kembali kebijakan konten yang menyinggung kebencian.
Kesimpulannya, rangkaian pernyataan provokatif Steven Wongso tentang orang berisi tubuh, penjual martabak, serta penggunaan steroid telah menimbulkan gelombang reaksi luas. Reaksi tersebut mencerminkan sensitivitas masyarakat Indonesia terhadap ujaran yang dianggap menyinggung serta menyoroti kebutuhan akan etika digital yang lebih ketat. Bagaimana langkah selanjutnya dari Steven dan platform media sosial akan menjadi sorotan utama dalam beberapa minggu mendatang.