GemaWarta – 12 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini Selasa 12 Mei 2026. Rupiah bergerak melemah 69 poin atau 0,40 persen menjadi 17.483 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.414 per dolar AS. Namun pada pukul 10.20 WIB, kurs rupiah telah menembus 17.510 per USD berdasarkan data wise.com.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyiapkan langkah intervensi di pasar obligasi melalui instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) dalam merespons anjloknya nilai tukar rupiah. Purbaya mengatakan, pemerintah akan mulai masuk ke pasar obligasi untuk menjaga agar imbal hasil (yield) surat utang negara tidak naik terlalu tinggi.
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Pada pukul 10.20 WIB, kurs rupiah telah menembus Rp 17.510 per USD berdasarkan data wise.com. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61% belum mampu mengangkat rupiah dari tekanan.
Kurs rupiah mengalami tekanan pada hari ini hingga menembus 17.500 per dolar AS. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah karena harapan damai AS-Iran sedang meredup.
Bank Indonesia (BI) menunjukkan, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sebesar Rp17.514 pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026). Nilai tukar itu melemahkan rupiah hingga 0,56% dibanding penutupan perdagangan pada hari sebelumnya. Level ini jadi rekor terburuk sepanjang sejarah.
Kenaikan yield atau imbal hasil obligasi yang terlalu tinggi berpotensi memicu keluarnya investor asing dari pasar keuangan domestik karena mengalami kerugian nilai investasi (capital loss). Oleh karena itu, pemerintah akan mulai membantu dengan masuk ke bond market.
Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk tekanan eksternal dan harapan damai AS-Iran yang sedang meredup. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61%, namun nilai tukar rupiah belum mampu pulih dari tekanan.
Kesimpulan, rupiah anjlok lagi dan kini tembus 17.514 per dolar AS. Pemerintah menyiapkan langkah intervensi di pasar obligasi untuk menjaga agar imbal hasil surat utang negara tidak naik terlalu tinggi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61% belum mampu mengangkat rupiah dari tekanan.











