GemaWarta – 16 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Pada Jumat, 15 Mei 2026, rupiah menyentuh posisi 17.600 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh kondisi geopolitik global, kenaikan harga minyak dunia, dan data ekonomi AS.
Analis Paaar Uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi penguatan indeks dolar AS. Terutama adanya faktor dari memanasnya perang AS dan Iran.
Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita mengatakan ada banyak hal yang mesti dilakukan pemerintah untuk memberikan dorongan agar Rupiah menguat. Pertama, menjaga kredibilitas fiskal dan APBN agar pasar yakin defisit tetap terkendali. Kedua, pemerintah harus memperkuat ekspor dan memperbesar devisa hasil ekspor suplai Dolar AS di dalam negeri lebih kuat.
Ronny menambahkan dalam jangka pendek, Bank Indonesia harus tetap aktif menjaga pasar valas supaya pelemahannya tidak terlalu tajam dan tidak memicu kepanikan. Namun untuk menguatkan Rupiah, bahkan untuk kembali seperti target di APBN perlu hal yang jauh lebih besar. Hal itu adalah menjaga kepercayaan pasar, anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) harus satu suara dan melakukan kebijakan dengan arah yang sama dan komunikasi yang baik.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan pemerintah dan pasar juga harus realistis bahwa volatilitas global saat ini memang jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu. Jika tekanan eksternal mulai mereda dan arus modal asing kembali masuk ke emerging markets termasuk Indonesia, peluang ke arah sana tetap terbuka.
Nilai tukar rupiah yang melemah ini berdampak pada perekonomian nasional. Rupiah harus segera menguat untuk menghindari dampak-dampak buruk melemahnya nilai tukar terhadap masyarakat. Pemerintah dan Bank Indonesia harus bekerja sama untuk menjaga kepercayaan pasar dan menguatkan rupiah.









