GemaWarta – 25 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan perpanjangan tiga minggu gencatan senjata Israel–Lebanon yang semula dimulai pada 17 April 2026. Perpanjangan ini memberi ruang bagi diplomasi, namun situasi di perbatasan masih tegang. Hezbollah melaporkan serangan balasan terhadap pasukan Israel di Qantara, sementara militer Israel menegaskan telah menghancurkan posisi militer kelompok tersebut di Tulin dan Khirbet Selem. Kedua belah pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata, sehingga ketegangan tetap tinggi.
Di tengah konflik, dampak ekonomi regional menjadi sorotan utama. Harga minyak mentah melonjak di atas $105 per barel pada perdagangan awal hari ini, dipicu oleh ketidakpastian di Selat Hormuz. Amerika Serikat menegaskan blokade maritimnya terhadap kapal yang diduga mendukung Iran, termasuk penangkapan supertanker yang berada di bawah sanksi AS. Pada saat yang sama, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap jaringan perdagangan minyak Iran di China, menargetkan lebih dari 40 entitas, termasuk sebuah kilang besar di China.
Serangkaian pernyataan politik juga mengiringi perpanjangan gencatan senjata. Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Roger Wicker, menyerukan penghentian negosiasi dengan Iran dan melanjutkan serangan militer untuk menghancurkan kemampuan nuklir dan militer Tehran. Sebaliknya, Presiden Trump menyatakan Iran telah mengajukan tawaran untuk bernegosiasi, meski tidak mengungkap detailnya. Delegasi AS yang dipimpin oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan tiba di Islamabad, Pakistan, untuk membahas langkah selanjutnya.
Di sisi kemanusiaan, warga Lebanon menunjukkan campuran rasa lega dan kecemasan. Mahasiswi Sarah Nuwayhid (18) mengaku dapat kembali ke kampus setelah periode pembelajaran daring selama konflik. Namun, ia menekankan kehadiran militer Israel di selatan Lebanon harus dihentikan karena wilayah itu tetap milik Lebanon. Sejumlah warga Lebanon lainnya, seperti Kaled Daher (65), menuntut penarikan pasukan Hezbollah dan penempatan tentara Lebanon di seluruh negeri untuk mengembalikan keamanan.
Kerugian jiwa terus meningkat. Kepala forensik Iran melaporkan hampir 3.400 korban jiwa di Iran sejak serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari. Di Lebanon, sekitar 2.500 orang tewas, sementara 23 orang meninggal di Israel. Amerika Serikat kehilangan 13 personel militer, dengan dua tambahan tewas karena penyebab non-kombat.
Di arena internasional, misi Iran ke PBB menuntut akuntabilitas atas penangkapan kapal komersial Iran “Toska” oleh AS, menuding tindakan tersebut melanggar kebebasan navigasi. Sementara itu, Iran menyiapkan balasan keras terhadap setiap serangan ke fasilitas minyaknya, menegaskan bahwa serangan akan melampaui prinsip “mata ganti mata”.
Upaya kemanusiaan juga terus berlangsung. Konvoi bantuan medis berangkat dari Turki menuju Iran, membawa obat-obatan penting. Di sisi lain, Italia bersiap mengirimkan dua kapal pemindai ranjau ke Selat Hormuz untuk membantu pembersihan wilayah yang terancam ranjau laut.
Keberadaan tiga kapal induk Amerika Serikat—USS Abraham Lincoln, USS Gerald R. Ford, dan USS George H.W. Bush—di wilayah Timur Tengah menandai intensifikasi kehadiran militer AS, pertama kalinya sejak 2003. Pihak militer AS menegaskan blokade di Selat Hormuz akan terus berlanjut “selama diperlukan” untuk menahan Iran.
Secara keseluruhan, perpanjangan gencatan senjata Israel-Lebanon memberikan jeda penting, namun konflik yang lebih luas antara Israel, Iran, dan sekutunya masih belum menemukan titik akhir. Upaya diplomatik, sanksi ekonomi, serta tekanan militer terus berinteraksi, menuntut perhatian internasional yang intensif untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.











