GemaWarta – 16 Mei 2026 | Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah Iran mengumumkan rencana untuk mengelola dan menarik tarif bagi kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran vital ini. Rencana ini langsung mendapat penolakan keras dari negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS). Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran yang sangat strategis karena mengangkut seperlima dari total lalu lintas minyak laut dunia.
Oman, yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, berada dalam posisi yang sulit karena terjepit dalam konflik geopolitik antara AS dan Iran. Posisi geografis Oman yang strategis, dengan wilayah eksklave Musandam tepat di sisi selatan Selat Hormuz, membuat negara ini sangat penting dalam pengelolaan jalur pelayaran ini.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya merupakan wilayah teritorial Iran dan Oman, dan tidak ada perairan internasional di antaranya. Iran juga telah membentuk Persian Gulf Strait Authority (PGSA) untuk mengelola selat tersebut, yang diproyeksikan sebagai sumber pendapatan negara.
Rencana Iran untuk menarik tarif bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz telah mendapat penolakan keras dari negara-negara Barat. Para diplomat Barat menilai bahwa proposal Iran ilegal karena membatasi kebebasan navigasi dan memberikan hak sepihak bagi Teheran untuk menyeleksi kapal yang boleh melintas berdasarkan kepemilikan negara.
Prancis, salah satu negara anggota Uni Eropa, telah menolak untuk ikut serta dalam operasi militer AS di Selat Hormuz. Keputusan ini menunjukkan bahwa Prancis ingin menjaga posisinya sebagai negara yang netral dalam konflik ini. Dengan demikian, situasi di Selat Hormuz masih sangat tidak stabil dan dapat berpotensi memicu konflik yang lebih besar.
Kesimpulan, situasi di Selat Hormuz masih sangat tidak stabil dan dapat berpotensi memicu konflik yang lebih besar. Rencana Iran untuk mengelola dan menarik tarif bagi kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran ini telah mendapat penolakan keras dari negara-negara Barat, dan Prancis telah menolak untuk ikut serta dalam operasi militer AS di Selat Hormuz.











