BERITA

Mengenal Tradisi dan Pantangan Malam 1 Suro, Tahun Baru Islam 1448 H

×

Mengenal Tradisi dan Pantangan Malam 1 Suro, Tahun Baru Islam 1448 H

Share this article
Mengenal Tradisi dan Pantangan Malam 1 Suro, Tahun Baru Islam 1448 H
Mengenal Tradisi dan Pantangan Malam 1 Suro, Tahun Baru Islam 1448 H

GemaWarta – 16 Juni 2026 | Malam 1 Suro merupakan salah satu momen penting dalam tradisi masyarakat Jawa. Bertepatan dengan pergantian tahun dalam penanggalan Jawa yang juga beriringan dengan Tahun Baru Islam, malam ini dimaknai sebagai waktu untuk melakukan introspeksi diri, memanjatkan doa keselamatan, serta memulai lembaran kehidupan yang baru.

Di Yogyakarta, tradisi Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta pada malam 1 Suro menjadi salah satu acara yang paling dinantikan. Mubeng Beteng dilakukan dengan memutari benteng Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam keheningan Tapa Bisu serta tanpa menggunakan alas kaki. Tradisi ini sudah ada sejak era Sri Sultan Hamengkubuwono II yang memerintah pada 1792–1810, 1811–1812, dan 1826–1828.

🔖 Baca juga:
Jadwal Shalat dan Kurban Idul Adha 2026: Informasi Penting untuk Umat Muslim

Selain Mubeng Beteng, berbagai daerah di Pulau Jawa memiliki tradisi khas yang diwariskan turun-temurun selama puluhan hingga ratusan tahun sebagai bagian dari peringatan malam sakral tersebut. Tradisi-tradisi Satu Suro tidak hanya berlangsung di lingkungan keraton, tetapi juga masih dijaga oleh masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai budaya dan spiritual leluhur.

Salah satu tradisi yang paling dikenal saat malam Satu Suro adalah Kirab Pusaka yang diselenggarakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta. Dalam ritual ini, sejumlah pusaka milik keraton dibersihkan dan diarak oleh keluarga kerajaan bersama para abdi dalem. Kirab pusaka menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus pengingat akan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

🔖 Baca juga:
Hong Kong: Penjualan Properti Mewah, Lonjakan Ekspor, Penurunan Profit Disneyland, dan Insiden Sepak Bola Eric Tsang

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki pantangan-pantangan yang diyakini dapat membawa kesialan jika dilanggar. Beberapa pantangan tersebut antara lain mengadakan acara besar seperti pernikahan, melakukan perjalanan jauh, berkonflik atau bertengkar, keluar rumah pada malam hari, tenggelam dalam aktivitas duniawi, membangun atau pindah rumah, dan berisik dan berkata kasar.

Dalam menyambut malam 1 Suro, masyarakat juga melakukan berbagai amalan seperti membaca doa awal tahun, mengerjakan sholat tasbih, membaca surat Yasin, minum susu putih sembari berdoa, membaca Al-Quran, bersholawat atas Nabi Muhammad SAW, dan melakukan amalan shalih secara umum.

🔖 Baca juga:
GTA 6 Siap Rilis November 2026: Tanggal Pengumuman Resmi dan Kontroversi Terbaru

Kesimpulan, malam 1 Suro merupakan momen yang sakral dan penuh makna bagi masyarakat Jawa. Dengan melakukan tradisi dan amalan yang telah diwariskan, masyarakat dapat mempererat hubungan dengan Tuhan dan meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai budaya dan spiritual leluhur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *