GemaWarta – 15 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menciptakan kegemparan di media sosial setelah mengunggah sebuah gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya dalam pose menyerupai Yesus Kristus. Gambar tersebut dipublikasikan pada platform miliknya, Truth Social, pada Minggu 12 April 2026, tepat setelah Trump melontarkan kritik keras terhadap Paus Leo XIV terkait seruan damai di Timur Tengah.
Gambar AI berformat lukisan bernuansa Americana menampilkan sosok berwajah Trump mengenakan jubah putih panjang dan selempang merah, elemen yang biasanya diasosiasikan dengan ikonografi Yesus. Dalam adegan tersebut, tangan kiri Trump tampak memancarkan cahaya, sementara tangan kanan diletakkan di kepala seorang pria yang tampak sakit, menyerupai tindakan penyembuhan. Latar belakang menampilkan jet tempur melesat, bendera Amerika Serikat, serta sosok menyerupai malaikat yang mengawasi dari atas. Di sekelilingnya terdapat beragam figur—perawat, tentara, veteran—yang mengangkat tangan seolah berdoa kepada Trump.
Pengunggahan gambar ini muncul bersamaan dengan pernyataan Trump yang menuduh Paus Leo XIV lemah dalam menangani kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri, terutama terkait konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Paus Leo, yang merupakan pemimpin Katolik pertama asal Amerika, menanggapi kritik tersebut dengan menegaskan peran moral Gereja dalam menentang perang dan mempromosikan perdamaian.
Reaksi publik terhadap gambar AI tersebut sangat cepat dan beragam. Banyak pihak, termasuk tokoh politik dan tokoh agama, mengutuk gambar itu sebagai penistaan agama. Mantan ketua Dewan Penasihat Pemuda Komite Nasional Republik, Brilyn Hollyand, menyebutnya “penistaan agama yang sangat besar” dan menegaskan bahwa iman bukanlah alat peraga. Kolumnis Daily Wire, Megan Basham, menilai postingan tersebut sebagai “penghujatan agama yang sangat keterlaluan”. Senator veteran Bernie Sanders menuduh Trump bersikap egomaniak, menambahkan bahwa tindakan tersebut menambah ketegangan antara Gedung Putih dan Vatikan.
Setelah menerima gelombang kecaman, Trump menghapus gambar tersebut pada Senin 13 April 2026. Dalam klarifikasi kepada BBC, ia menyatakan bahwa gambar itu dimaksudkan untuk menampilkan dirinya sebagai seorang dokter yang bekerja sama dengan Palang Merah, bukan sebagai sosok mesianik. “Foto itu seharusnya dokter yang membuat orang lebih baik, dan saya memberikan kenyamanan kepada mereka,” ujarnya. Namun, dalam wawancara dengan CBS News, ia menambahkan bahwa penghapusan dilakukan karena tidak ingin menimbulkan kebingungan publik.
Gedung Putih tidak memberikan komentar resmi mengenai alasan penghapusan, namun keputusan tersebut tampaknya dipengaruhi oleh tekanan dari kalangan konservatif, media, serta kelompok keagamaan yang menilai gambar tersebut melanggar sensitivitas religius. Sementara itu, Paus Leo XIV tetap menghindari konfrontasi langsung, menyatakan bahwa ia tidak ingin terlibat dalam perdebatan politik dan menekankan kembali pentingnya dialog dan perdamaian.
Insiden ini muncul pada saat hubungan antara Amerika Serikat dan Vatikan sudah tegang akibat perbedaan kebijakan luar negeri, khususnya mengenai operasi militer di Timur Tengah dan kebijakan imigrasi. Trump, yang tengah berupaya mempertahankan dukungan pemilih Kristen setelah pemilihan 2024, sebelumnya diketahui sering menggunakan simbol-simbol religius dalam kampanye politiknya, meski kali ini langkah tersebut berujung pada kontroversi internasional.
Secara keseluruhan, gambar AI yang menampilkan Trump mirip Yesus menjadi contoh nyata bagaimana teknologi generatif dapat memicu perdebatan etika, politik, dan agama dalam era digital. Penghapusan gambar tersebut menandai upaya pemerintah untuk meredam potensi konflik budaya, namun juga menyoroti tantangan bagi tokoh publik dalam mengelola citra mereka di media sosial yang semakin terhubung dengan audiens global.











