GemaWarta – 15 April 2026 | Changpeng Zhao, pendiri dan mantan CEO Binance, kembali menjadi sorotan publik setelah meluncurkan memoir berjudul Freedom of Money. Buku tersebut tidak hanya mengisahkan perjalanan pribadi Zhao dalam membangun salah satu bursa kripto terbesar di dunia, tetapi juga menyoroti konflik regulasi yang ia klaim timbul akibat “lingkungan hostil” yang diciptakan oleh pemerintahan Biden di Amerika Serikat.
Dalam wawancara eksklusif, Zhao menyatakan bahwa tindakan keras regulator Amerika, khususnya Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) serta Office of the Comptroller of the Currency (OCC), menimbulkan tekanan yang tak tertahankan bagi Binance. Ia menuduh Sekretaris Keuangan AS, Janet Yellen, dan Ketua Komisi Sekuritas, Gary Gensler, berkoordinasi dengan agenda politik Partai Demokrat, menjadikan kripto sebagai medan pertempuran politik. Zhao menegaskan bahwa pendekatan tersebut tidak hanya menargetkan Binance, melainkan seluruh ekosistem aset digital.
Menurut Zhao, kebijakan anti‑money laundering (AML) yang diterapkan secara agresif pada tahun 2023‑2024 memaksa Binance untuk menyesuaikan operasi dalam waktu singkat. Ia menilai bahwa regulasi tersebut tidak mempertimbangkan dinamika inovasi fintech, melainkan lebih dipengaruhi oleh persepsi politik yang “misread” mengenai kepentingan pemilih kripto. Kritik serupa juga diungkapkan dalam pernyataan lain yang menyebut bahwa Demokrat secara keliru menafsirkan isu pemilih kripto, menganggapnya sebagai ancaman politik ketimbang peluang ekonomi.
Pernyataan Zhao mengenai “hostile environment” mendapat sorotan tambahan ketika ia mengungkapkan pengalaman empat bulan di penjara federal pada 2024. Selama masa tahanan, Zhao menghabiskan waktu menulis memoar yang kini menjadi sumber utama narasinya. Ia menggambarkan rutinitas harian yang ketat, akses terbatas ke teknologi, dan upaya menyalurkan pemikiran tentang kebebasan finansial melalui tulisan. “Menulis menjadi satu‑satunya cara untuk tetap terhubung dengan dunia luar dan menyampaikan visi saya tentang masa depan uang digital,” ujarnya.
Memoir tersebut mencakup 364 halaman yang menguraikan evolusi Binance sejak diluncurkan pada 2017, ekspansi global yang cepat, serta tantangan regulasi yang mengakibatkan penyelesaian hukum dengan otoritas Amerika. Sebagai bagian dari penyelesaian, Binance setuju membayar denda miliaran dolar dan Zhao mengundurkan diri dari posisi CEO. Dalam bukunya, Zhao mengakui bahwa pertumbuhan eksponensial perusahaan sering kali melampaui kerangka regulasi yang ada, menciptakan celah kepatuhan yang kemudian menjadi sasaran regulator.
Reaksi pasar terhadap peluncuran memoir dan pernyataan politik Zhao beragam. Sektor kripto global mencatat lonjakan volume perdagangan pada hari peluncuran, sementara analis keuangan menilai bahwa narasi Zhao dapat memperkuat persepsi risiko regulasi bagi investor institusional. Di sisi lain, beberapa anggota Kongres Demokrat menanggapi kritik Zhao dengan menegaskan pentingnya perlindungan konsumen dan pencegahan pencucian uang dalam industri kripto.
Berikut beberapa poin kunci yang diangkat dalam memoir Zhao:
- Strategi awal Binance dalam mengoptimalkan likuiditas dan menurunkan biaya transaksi.
- Pengalaman pribadi selama penahanan, termasuk tantangan mental dan fisik.
- Kritik terhadap kebijakan regulator AS yang dianggap tidak proporsional.
- Visi jangka panjang tentang peran kripto dalam memperluas akses keuangan, terutama di pasar berkembang.
- Usulan kerangka regulasi yang lebih adaptif dan kolaboratif antara pemerintah dan industri.
Walaupun Zhao menekankan bahwa kripto dapat menjadi alat pemberdayaan ekonomi, ia juga mengakui risiko signifikan yang melekat pada platform berukuran besar tanpa pengawasan yang memadai. Ia mengajak pembuat kebijakan untuk menyelaraskan agenda regulasi dengan realitas teknologi, menghindari pendekatan yang bersifat “punitive” semata.
Kesimpulannya, peluncuran Freedom of Money tidak hanya menambah literatur tentang sejarah Binance, tetapi juga menimbulkan perdebatan baru mengenai peran politik dalam regulasi aset digital. Zhao berharap bukunya dapat menjadi jembatan dialog antara regulator, pelaku industri, dan publik, mengarah pada ekosistem kripto yang lebih transparan dan berkelanjutan.





