GemaWarta – 20 April 2026 | Pada Minggu, 19 April 2026, Etihad Stadium menjadi saksi duel krusial antara Manchester City dan Arsenal dalam perebutan gelar Premier League 2025-26. Pertandingan berakhir dengan kemenangan tipis City 2-1, berkat gol penentu Erling Haaland di babak kedua. Namun, sorotan utama tidak hanya pada gol penentu, melainkan pada peran Matheus Nunes yang secara konsisten menggerakkan serangan City dan membuka celah bagi pemain sayap serta penyerang.
Matheus Nunes, gelandang tengah asal Portugal yang bergabung dengan City pada bursa musim panas, menunjukkan kemampuan transisi yang tajam. Pada menit ke-12, ia menerima bola dari Rúben Dias dan dengan satu sentuhan mengoper ke Rayan Cherki yang kemudian mencetak gol pembuka. Umpan tersebut menegaskan bahwa Nunes mampu menemukan ruang di lini tengah Arsenal yang masih menyesuaikan diri dengan taktik Mikel Arteta.
Analisis mantan pemain Inggris Gary Neville di podcastnya menyoroti betapa pentingnya pergerakan Nunes dalam melawan pertahanan Arsenal. Neville menilai bahwa full‑back Arsenal, Piero Hincapié dan Cristhian Mosquera, meski solid secara defensif, kurang memberikan opsi umpan yang dapat dimanfaatkan oleh pemain seperti Matheus Nunes. “Jika Anda memikirkan Matheus Nunes dan Nico O’Reilly untuk City, mereka memiliki kebebasan di daerah final‑third yang tidak dimiliki oleh Hincapié dan Mosquera,” ujar Neville.
Kesalahan kritis Gianluigi Donnarumma pada menit ke-35 juga berawal dari umpan balik Matheus Nunes. Setelah menerima bola dari Nunes, Donnarumma menunda penanganan, memberi ruang bagi Kai Havertz untuk menekan dan memaksa penyelamatan berbahaya yang berujung pada gol penyama kedudukan Arsenal. Momen tersebut menegaskan betapa peran Nunes tidak hanya dalam menciptakan peluang, tetapi juga dalam menekan lawan hingga terjadi kesalahan fatal.
Di babak kedua, Matheus Nunes terus menjadi penghubung antara lini tengah dan lini serang. Ia sering menempati zona antara kotak penalti dan pertengahan lapangan, memberikan umpan pendek kepada O’Reilly yang kemudian mengirimkan bola ke Haaland. Gol penentu Haaland pada menit ke-78 muncul setelah rangkaian umpan satu dua antara Nunes, O’Reilly, dan De Bruyne, memperlihatkan koordinasi yang semakin matang antara gelandang kreatif dan penyerang utama City.
Selain kontribusi teknis, Nunes juga menunjukkan kecepatan mental. Setelah gol Havertz menyamakan kedudukan, ia beralih ke tekanan tinggi, memaksa Arsenal menurunkan barisan pertahanan. Tekanan terus-menerus tersebut memaksa Arteta mengubah taktik, menurunkan Jurrien Timber ke posisi sayap kanan untuk menambah kedalaman. Namun, perubahan itu tidak cukup untuk menahan aliran serangan City yang dipimpin oleh Nunes.
Gary Neville menutup analisanya dengan menekankan bahwa kehilangan Jurrien Timber sebagai pemain serba bisa menambah beban pada full‑back Arsenal. “Mereka kehilangan Timber, pemain yang mampu berkontribusi baik secara defensif maupun ofensif. Tanpa dia, mereka bergantung pada Hincapié dan Mosquera yang tidak memiliki kemampuan serupa,” katanya. Neville menilai bahwa kehadiran Matheus Nunes menambah dimensi tak terduga bagi City, memaksa lawan mengatur lini mereka dengan lebih hati‑hati.
Implikasi hasil ini bagi perebutan gelar sangat signifikan. Arsenal tetap memimpin klasemen dengan selisih tiga poin atas City, namun selisih pertandingan membuat tekanan semakin besar. Sementara City kini berada tiga poin di belakang dengan satu pertandingan lebih sedikit, kemenangan ini membuka peluang untuk melampaui Arsenal pada putaran berikutnya. Bagi Matheus Nunes, penampilan impresif ini menegaskan posisinya sebagai salah satu gelandang paling berpengaruh di liga, sekaligus meningkatkan reputasinya di mata para kritikus dan penggemar.
Secara keseluruhan, pertandingan antara Manchester City dan Arsenal tidak hanya menjadi duel taktik antara Pep Guardiola dan Mikel Arteta, melainkan juga arena di mana Matheus Nunes menampilkan kemampuan serba guna yang mampu mengubah alur pertandingan. Dengan pengaruh yang terus berkembang, Nunes diprediksi akan menjadi kunci utama City dalam beberapa laga penentu yang tersisa, sementara Arsenal harus mencari solusi bagi kelemahan pada sisi sayap untuk tetap bersaing di puncak klasemen.











