GemaWarta – 22 Mei 2026 | Persaingan di dunia bola sepak Eropa kembali memanas dengan kasus no-poach agreements yang melibatkan CD Tondela. Dalam kasus ini, klub-klub sepak bola di Portugal sepakat untuk tidak merekrut pemain yang mengakhiri kontrak kerja mereka karena pandemi COVID-19. Pertanyaan yang muncul adalah apakah kesepakatan ini merupakan pelanggaran terhadap persaingan yang sehat di bawah Artikel 101 Perjanjian Fungsi Uni Eropa (TFEU).
Mahkamah Eropa (Court) kemudian memutuskan bahwa hanya praktik tertentu yang diadopsi oleh klub dan asosiasi sepak bola yang tidak termasuk dalam cakupan hukum persaingan Uni Eropa. Aturan tentang aspek non-ekonomi olahraga, seperti aturan permainan, tidak termasuk dalam cakupan hukum persaingan. Namun, aturan tentang mobilitas profesional pemain memiliki dampak langsung pada kondisi bagi penglibatan dalam kegiatan ekonomi dan termasuk dalam cakupan hukum persaingan.
Perjanjian no-poach umumnya dianggap sebagai pelanggaran otomatis tanpa perlu mempertimbangkan dampak ekonomi yang sebenarnya. Namun, kategorisasi ini memerlukan pertimbangan konteks hukum dan ekonomi. Kasus CD Tondela menunjukkan bahwa kenyataan pasar lebih penting daripada bentuk, bahkan untuk perjanjian yang tidak memerlukan bukti dampak antikompetitif.
Sementara itu, di Afrika Selatan, pelatih Hugo Broos telah mengumumkan skuad awal Bafana Bafana untuk Piala Dunia 2026. Beberapa pemain yang terpilih termasuk Iqraam Rayners, Brooklyn Poggenpoel, dan Themba Zwane. Broos berharap skuad ini dapat membawa kesuksesan bagi tim nasional Afrika Selatan di Piala Dunia mendatang.
Kesimpulan dari kasus no-poach agreements dan pengumuman skuad Bafana Bafana menunjukkan bahwa persaingan di dunia sepak bola terus memanas. Klub dan asosiasi sepak bola harus memahami dan mengikuti aturan hukum persaingan untuk memastikan kesuksesan dan keadilan dalam olahraga ini.











