GemaWarta – 27 April 2026 | Manajer asal Portugal, Ruben Amorim, mengumumkan rencananya untuk mengambil sabbatical pada musim 2026-27 setelah meraih serangkaian prestasi gemilang bersama SC Braga. Keputusan ini menandai jeda pertama dalam kariernya yang selama ini tak pernah terhenti sejak ia menapaki jenjang kepelatihan.
Amorim, yang berusia 41 tahun, memulai perjalanan melawan dunia sepak bola profesional sebagai pemain sebelum beralih ke peran teknis. Karier kepelatihannya melonjak drastis ketika ia ditunjuk menjadi asisten pelatih di SC Braga pada tahun 2018, kemudian naik menjadi kepala pelatih pada tahun 2020. Di bawah asuhannya, Braga berhasil menembus zona Liga Champions, mencatat kemenangan penting melawan tim-tim besar Eropa, serta menjuarai Taça de Portugal pada 2021.
Pada tahun 2023, keberhasilan Amorim di Braga membuka pintu menuju klub raksasa Inggris, Manchester United. Namun, kepindahannya ke Old Trafford berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan, dan pada Januari 2026 ia resmi mengundurkan diri. Alih-alih segera mencari tantangan baru, Amorim memilih untuk menyisihkan satu musim penuh sebagai periode refleksi dan pengembangan pribadi.
Berikut rangkuman singkat perjalanan karier Ruben Amorim:
| Tahun | Posisi | Klub/Tim | Prestasi Utama |
|---|---|---|---|
| 2018-2020 | Asisten Pelatih | SC Braga | Promosi ke zona Eropa |
| 2020-2023 | Pelatih Kepala | SC Braga | Penjuaraan Taça de Portugal 2021; Kualifikasi Liga Champions 2022 |
| 2023-2025 | Pelatih Kepala | Manchester United | Penempatan perempat final Liga Champions |
Rencana sabbatical Amorim tidak sekadar beristirahat; ia berniat menghabiskan waktu menjelajahi metodologi pelatihan di klub-klub elite Eropa, berdiskusi dengan manajer-manajer terkemuka, serta memperdalam aspek taktik dan psikologi pemain. Menurut laporan, ia akan mengunjungi klub-klub seperti Bayern München, Paris Saint-Germain, serta tim-tim di Liga Italia untuk bertukar ide dan mengamati perkembangan taktik modern.
Keputusan ini menimbulkan spekulasi di kalangan penggemar dan media. Beberapa pihak menilai Amorim sedang menyiapkan langkah besar berikutnya, mungkin kembali ke liga top Eropa dengan tawaran yang lebih menggiurkan. Namun, ia menegaskan bahwa ia tidak akan kembali melatih di Portugal kecuali ada tawaran yang “sangat menguntungkan” atau “prestisius”.
Keputusan Amorim juga memberi dampak pada SC Braga. Klub yang selama ini menjadi batu loncatan kariernya kini harus menyiapkan strategi baru untuk mengisi kekosongan taktik yang ditinggalkan sang mantan pelatih. Direktur Olahraga Braga, Luís Filipe, menyatakan bahwa klub tetap fokus pada pengembangan pemain muda dan menargetkan penampilan solid di kompetisi domestik serta Eropa.
Sementara itu, di panggung sepak bola internasional, berita tentang Amorim bersaing dengan sorotan lain, seperti kemenangan dramatis Hearts atas Hibernian di Skotlandia serta Borussia Dortmund yang mengamankan tempat di Liga Champions. Meskipun demikian, kisah sabbatical Amorim menjadi sorotan utama bagi pecinta sepak bola yang menantikan langkah selanjutnya dari salah satu manajer paling progresif generasi ini.
Dalam wawancara singkat, Amorim menegaskan bahwa masa sabbatical adalah “investasi pada diri sendiri”. Ia berharap dapat kembali ke dunia kepelatihan dengan perspektif yang lebih luas, kesiapan mental yang lebih kuat, serta rancangan taktik yang lebih inovatif. “Saya ingin kembali bukan hanya sebagai pelatih, tetapi sebagai visioner yang dapat menginspirasi pemain dan staf,” ungkapnya.
Dengan langkah strategis ini, Ruben Amorim menegaskan komitmennya terhadap evolusi pribadi dan profesional, sekaligus membuka babak baru dalam narasi sepak bola Portugal. Apakah sabbatical ini akan menjadi titik balik yang mengantarkan Amorim ke puncak karier internasional yang lebih tinggi? Waktu akan menjawab, namun satu hal pasti: nama SC Braga akan tetap dikenang sebagai tempat lahirnya manajer yang kini menatap horizon baru.











