GemaWarta – 16 Juli 2026 | Skandal terbaru di dunia sepak bola internasional telah memunculkan pertanyaan tentang integritas FIFA dan presidennya, Gianni Infantino. Infantino dituduh memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Hal ini memicu kekhawatiran tentang kemungkinan pengaruh politik dalam pengambilan keputusan FIFA.
Infantino telah menjadi sasaran kritik karena keputusannya untuk bekerja sama dengan perusahaan yang dimiliki oleh Brad Parscale, mantan digital strategist Trump. Perusahaan ini, Campaign Nucleus, menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis data pemilih dan menyasar iklan politik. Kemitraan ini telah memicu kekhawatiran tentang potensi penyalahgunaan data pribadi dan pengaruh politik dalam sepak bola.
Sementara itu, Erick Thohir, Ketua Umum PSSI, telah muncul sebagai calon potensial untuk menggantikan Infantino sebagai Presiden FIFA. Thohir harus memenuhi syarat administratif dan integritas yang ketat untuk menjadi calon presiden. Namun, dengan latar belakangnya di dunia sepak bola dan pengalaman sebagai pemimpin, Thohir dapat menjadi kandidat yang kuat untuk memimpin FIFA ke arah yang lebih transparan dan bebas dari pengaruh politik.
Skandal ini juga memunculkan pertanyaan tentang masa depan sepak bola internasional dan peran FIFA dalam mengatur olahraga ini. Dengan kekhawatiran tentang korupsi dan pengaruh politik, fans sepak bola di seluruh dunia menantikan perubahan yang signifikan dalam kepemimpinan FIFA.
Kesimpulan, skandal terbaru di FIFA telah memicu kekhawatiran tentang integritas dan transparansi dalam sepak bola internasional. Dengan kemunculan Erick Thohir sebagai calon presiden, fans sepak bola dapat berharap bahwa perubahan yang positif akan terjadi dalam waktu dekat.











