GemaWarta – 03 Juli 2026 | Piala Dunia 2026 kembali menunjukkan kerasnya persaingan di level tertinggi sepak bola. Meski babak 32 besar belum berakhir, sudah enam pelatih tim nasional kehilangan jabatannya, baik karena dipecat maupun memilih mengundurkan diri setelah gagal memenuhi target di turnamen.
Keisuke Honda, legenda sepak bola Jepang, secara mengejutkan mengajukan diri untuk mengisi kursi pelatih Timnas Jepang menyusul hasil mengecewakan di Piala Dunia 2026. Langkah berani ini diambil mantan pelatih Timnas Kamboja tersebut setelah Jepang dipastikan tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Jepang sebenarnya sukses melaju ke babak 32 besar seusai menjadi runner-up Grup F. Mereka berhasil menahan imbang Belanda 2-2, menaklukan Tunisia 4-0, dan ditahan imbang Swedia 1-1. Namun, di babak 32 besar Piala Dunia 2026, Jepang harus mengakui keunggulan Brasil seusai kalah 1-2.
Sementara itu, enam pelatih yang kehilangan jabatannya adalah Ronald Koeman (Belanda), Hong Myung-bo (Korea Selatan), Steve Clarke (Skotlandia), Miroslav Koubek (Republik Ceko), Sabri Lamouchi (Tunisia), dan Sebastian Beccacece (Ekuador). Dari keenam pelatih tersebut, Sabri Lamouchi menjadi yang paling mengejutkan karena dipecat saat matchday pertama fase grup Piala Dunia 2026.
Pelatih timnas Tunisia, Sabri Lamouchi, dipecat usai kalah telak 1-5 dari Swedia di awal Piala Dunia 2026. Keputusan tersebut diambil dalam situasi yang berbeda-beda. Beberapa pelatih tiba dalam kondisi di bawah tekanan, sementara yang lainnya sempat menuai pujian luas setelah berhasil menembus babak kualifikasi, tetapi pencapaian itu nyatanya dengan cepat terlupakan.
Pelatih Ekuador, Sebastian Beccacece, juga memutuskan untuk mengundurkan diri setelah timnya tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Keputusan tersebut diambil setelah Ekuador kalah 0-2 dari Meksiko di Mexico City Stadium.
Dengan masih bergulirnya Piala Dunia 2026, bisa saja korban pemecatan pelatih akan bertambah. Piala Dunia memang kerap menjadi tolok ukur keberhasilan seorang pelatih. Persiapan selama bertahun-tahun bisa berakhir hanya dalam satu pertandingan, sehingga konsekuensi yang diterima pun tidak jarang berupa pemecatan atau pengunduran diri.
Kesimpulan dari kejadian ini adalah bahwa Piala Dunia 2026 merupakan turnamen yang sangat kompetitif dan menuntut para pelatih untuk memberikan yang terbaik. Keenam pelatih yang kehilangan jabatannya merupakan contoh bahwa kegagalan dalam turnamen ini dapat berakibat fatal bagi karir mereka.











