GemaWarta – 21 Mei 2026 | Tegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat setelah marinir AS menaiki kapal tanker minyak Iran di Laut Oman. Kapal tanker tersebut diduga mencoba melanggar blokade angkatan laut AS dengan berlayar menuju pelabuhan Iran.
Menurut Komando Pusat AS (Centcom), marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 menaiki M/T Celestial Sea, yang berlayar di bawah bendera Aruba dan memiliki panjang lebih dari 120 meter. Pasukan AS melepaskan kapal tersebut setelah melakukan penggeledahan dan mengarahkan awak kapal untuk mengubah haluan.
Insiden ini terjadi sehari setelah Presiden Trump mengatakan ia membatalkan serangan terhadap Iran dengan harapan dapat melanjutkan negosiasi dengan Teheran. Presiden mengatakan ia mengambil keputusan tersebut pada hari Selasa setelah permintaan dari sekutu-sekutu Teluk.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan AS dan Israel bahwa setiap serangan baru terhadap Teheran akan menyebabkan konflik yang meluas di luar Timur Tengah. Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting, dan Washington telah membalasnya dengan memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang mencoba mencapai atau meninggalkan pelabuhan Iran.
Hampir tertutupnya Selat Hormuz telah menyebabkan kenaikan harga energi di seluruh dunia dan AS sebelumnya mengatakan bahwa lebih dari 1.500 kapal dari hampir 90 negara terdampar di Teluk Persia.
Otoritas Selat Teluk Persia Iran mengumumkan pembentukan zona maritim terkendali di Selat Hormuz yang mewajibkan kapal untuk berkoordinasi dan memperoleh izin dari otoritas tersebut sebelum melintasi jalur perairan strategis itu.
Iran juga akan bekerja sama dengan organisasi internasional untuk menciptakan mekanisme guna memastikan jalur aman bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Hal itu dikatakan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.
Wakil politik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan selat tersebut telah ditutup atas perintah Komandan Angkatan Laut Alireza Tangsiri dan mengklaim Washington telah gagal membalikkan situasi.
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut terlibat percakapan telepon selama satu jam yang berlangsung tegang karena berbeda pandangan soal kelanjutan aksi militer terhadap Teheran.
Trump menambahkan pihak-pihak terkait akan mencapai kesepakatan atau melakukan beberapa hal yang sedikit buruk, meski ia berharap hal buruk tersebut tidak terjadi.
Kapal tanker minyak Korea Selatan meninggalkan Selat Hormuz setelah berkonsultasi dengan Iran, kata Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun.
Korsel sedang melakukan pembicaraan dengan Iran untuk memastikan jalur yang aman dan cepat bagi seluruh kapal mereka.
Kesimpulan, situasi di Selat Hormuz semakin tegang dengan adanya insiden kapal tanker Iran yang dinaiki marinir AS. Tindakan ini memicu ketegangan antara AS dan Iran, yang dapat berdampak pada stabilitas energi global.











